12 Hari Menuju Piala Dunia 2026: Rekor Tak Terkalahkan Zagallo dan Olarticoechea yang Sulit Disamai

JAKARTA, viralsumsel.com – Menjelang kick-off Piala Dunia 2026, FIFA terus menghadirkan berbagai catatan statistik menarik dari sejarah turnamen sepak bola terbesar di dunia.

Memasuki hitung mundur 12 hari menuju Piala Dunia 2026, sorotan kali ini tertuju kepada dua legenda yang mencatat rekor luar biasa: tampil paling banyak di Piala Dunia tanpa pernah merasakan kekalahan.

Dua nama yang masuk dalam daftar eksklusif tersebut adalah legenda Brasil Mario Zagallo dan mantan bek Argentina Julio Olarticoechea. Keduanya sama-sama mencatatkan 12 penampilan di putaran final Piala Dunia tanpa sekalipun mengalami kekalahan, sebuah pencapaian yang hingga kini masih menjadi salah satu rekor paling istimewa dalam sejarah kompetisi.

Mario Zagallo, Sang Semut Kecil yang Menjadi Legenda Brasil

Mario Zagallo merupakan bagian penting dari generasi emas Brasil yang menjuarai Piala Dunia 1958 di Swedia dan Piala Dunia 1962 di Chile.

Sepanjang dua edisi tersebut, Zagallo tampil dalam seluruh pertandingan Brasil dan mengukir catatan impresif berupa 10 kemenangan serta dua hasil imbang. Hebatnya lagi, tidak satu pun laga yang ia jalani berakhir dengan kekalahan.

Perjalanan Zagallo menuju panggung utama sebenarnya tidak berlangsung mulus. Pada awalnya, posisi sayap kiri utama Brasil ditempati oleh Pepe. Namun cedera yang dialami sang pemain menjelang laga pembuka membuka jalan bagi Zagallo untuk tampil.

Baca Juga :  Stadion Mini Berstandar FIFA Dibangun di Muratara

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Pemain yang dijuluki “The Little Ant” atau Semut Kecil tersebut tampil luar biasa berkat etos kerja tinggi, disiplin taktik, dan kontribusi penting dalam serangan tim.

Selama dua turnamen tersebut, Zagallo mencetak dua gol penting, termasuk satu gol pada partai final melawan tuan rumah Swedia pada 1958. Penampilannya menjadi salah satu fondasi keberhasilan Brasil meraih dua gelar dunia secara beruntun.

Nama Zagallo kemudian semakin melegenda karena tidak hanya sukses sebagai pemain, tetapi juga sebagai pelatih dan koordinator tim nasional Brasil dalam berbagai era kejayaan Selecao.

Julio Olarticoechea, Bek Tangguh Argentina yang Tak Pernah Tumbang

Di sisi lain, Argentina memiliki sosok Julio Olarticoechea yang juga mencatatkan rekor identik.

Meski masuk skuad Argentina pada Piala Dunia 1982 di Spanyol, Olarticoechea tidak mendapatkan kesempatan bermain. Namun kariernya di Piala Dunia mulai bersinar pada Meksiko 1986, ketika ia menjadi bagian penting dari tim yang dipimpin Diego Maradona.

Pada turnamen tersebut, Olarticoechea tampil dalam seluruh tujuh pertandingan Argentina dan membantu Albiceleste meraih gelar juara dunia kedua mereka.

Baca Juga :  Belgia Bantai Kazakhstan 6-0 di Kualifikasi Piala Dunia 2026

Empat tahun kemudian di Italia 1990, bek kelahiran Saladillo itu kembali menjadi pilihan utama. Ia tampil dalam lima pertandingan dan membantu Argentina mencapai partai final.

Menariknya, dua kekalahan Argentina pada turnamen tersebut justru terjadi saat Olarticoechea tidak berada di lapangan. Kekalahan pertama terjadi saat menghadapi Kamerun pada laga pembuka, sedangkan kekalahan kedua dialami ketika berhadapan dengan Jerman Barat di partai final.

Dengan total delapan kemenangan dan empat hasil imbang dari 12 pertandingan, Olarticoechea menorehkan rekor yang hingga kini belum mampu dilewati pemain lain.

Rekor yang Bertahan Puluhan Tahun

Dalam sejarah panjang Piala Dunia, banyak pemain hebat yang mencatatkan puluhan penampilan. Namun sangat sedikit yang mampu menjaga catatan tak terkalahkan dalam jumlah pertandingan sebanyak yang dilakukan Zagallo dan Olarticoechea.

Rekor tersebut menunjukkan betapa pentingnya peran keduanya dalam tim nasional masing-masing. Mereka bukan hanya menjadi bagian dari skuad juara, tetapi juga simbol konsistensi dan mentalitas kemenangan di panggung tertinggi sepak bola dunia.

Menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, rekor milik Zagallo dan Olarticoechea masih berdiri kokoh sebagai salah satu pencapaian paling langka dalam sejarah turnamen. (bbs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *