MUBA, viralsumsel.com – Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) terus memperkuat strategi ketahanan pangan melalui pendekatan berbasis data.
Salah satunya dengan menyusun Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) Tahun 2026 serta mengevaluasi laporan FSVA Tahun 2025 sebagai dasar pengambilan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Langkah ini dinilai sebagai upaya strategis untuk memastikan masyarakat mendapatkan akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi, sekaligus memperkuat intervensi pemerintah dalam menekan kerentanan pangan di berbagai wilayah.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Ketahanan Pangan Muba, Apriadi Aziz, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa FSVA menjadi instrumen penting dalam memetakan kondisi ketahanan pangan secara menyeluruh.
“Ke depan, kebijakan tidak bisa lagi berbasis asumsi. Semua harus didukung data yang akurat. FSVA menjadi fondasi utama agar intervensi pemerintah benar-benar tepat lokasi, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata,” ujarnya, Rabu (8/6/2026).
Berdasarkan hasil FSVA Tahun 2025, ditemukan adanya perbedaan tingkat ketahanan dan kerentanan pangan antar wilayah di Kabupaten Musi Banyuasin. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah untuk merancang kebijakan yang lebih spesifik dan sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah.
Apriadi menjelaskan, penyusunan FSVA Tahun 2026 diarahkan untuk mempertajam analisis tersebut, sekaligus memperkuat integrasi lintas sektor. Pendekatan ini mencakup berbagai aspek penting, mulai dari ketersediaan pangan, akses masyarakat terhadap pangan, hingga pemanfaatan pangan yang bergizi.
“Dengan analisis yang lebih tajam, kita dapat merumuskan langkah-langkah intervensi yang lebih efektif, termasuk dalam mengatasi daerah rawan pangan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penguatan ketahanan pangan tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga berkaitan erat dengan upaya penurunan angka kemiskinan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Ketahanan pangan merupakan bagian integral dari pembangunan daerah. Ketika kebutuhan pangan terpenuhi dengan baik, maka kualitas hidup masyarakat juga akan meningkat,” tambahnya.
Pemkab Muba juga mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menyukseskan program ini. Keterlibatan berbagai perangkat daerah dan pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci dalam membangun sistem pangan yang tangguh, adaptif, dan berkelanjutan.
Pendekatan berbasis data yang diterapkan melalui FSVA ini sekaligus menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam menghadirkan kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat, khususnya di wilayah yang rentan terhadap kerawanan pangan.
“Ini merupakan wujud nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat. Dengan data yang jelas, intervensi yang dilakukan juga harus tepat. Harapannya, masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari setiap kebijakan yang diambil,” tandasnya. (bbs)






