
viralsumsel.com, JAKARTA – Belum berjalan satu bulan, Sekolah Rakyat sudah ditinggalkan ratusan siswanya. Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono menganggapnya bagian proses adaptasi.
Sekolah Rakyat tersebar di sebanyak 63 titik di berbagai kota di Indonesia mulai berjalan pada 14 Juli 2025. Di bawah naungan Kementerian Sosial, Sekolah Rakyat menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang rawan putus sekolah.
Namun, belakangan sudah 115 siswa memilih mundur. Di antaranya, Jawa dan Sulawesi masing-masing 35 siswa, di Kalimantan 10 siswa, di Sumatera 26 siswa,, Bali dan Nusa Tenggara 4 siswa, dan di Maluku 5.
Agus Jabo mengaku tak masalah adanya siswa yang memilih mundur dari sekolah rakyat. Ia menilai hal ini menjadi bagian proses.
“Ini kan habitat baru ya. Mereka terbiasa hidup bersama teman-teman di lingkungan asalnya, lalu masuk sekolah rakyat mereka harus diasramakan,” kata Agus Jabo di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 6 Sentra Handayani, Jakarta Timur, Senin (11/8/2025).
“Jadi ini proses baru yang memang butuh penyesuaian. Kalau kemudian ada yang mundur, saya pikir tidak ada masalah,” katanya.
Meski demikian, Agus menyebut pemerintah tetap berkomitmen agar anak-anak tidak putus sekolah. Untuk itu, pemerintah sudah menyiapkan pengganti siswa yang mundur.
“Jadi ya nggak apa-apa, semua berproses. Ini perintah Pak Presiden supaya anak-anak Indonesia semua bisa bersekolah,” kata Agus Jabo.
“Yang kaya, yang miskin semua harus sekolah, supaya mereka pintar, punya karakter, dan keterampilan. Sekolah rakyat ini adalah jembatan untuk mewujudkan cita-cita mereka,” imbuhnya.
Pemerintah AI, lanjut Agus Jabo, juga akan melakukan evaluasi menyeluruh terkait pelaksanaan Sekolah Rakyat tersebut.
“Kita mengevaluasi dari proses pelaksanaannya, pelaksanaan teknis, proses belajar mengajar, asrama, makanan, semua day to day-nya kita evaluasi,” katanya. (mel)