VIRALSUMSEL.COM – Langkah Timnas Belanda di Piala Dunia FIFA 2026 harus terhenti secara dramatis setelah kalah dalam adu penalti dari Maroko pada babak 32 besar.
Kekalahan tersebut tidak hanya mengakhiri perjalanan Oranje di turnamen, tetapi juga menghancurkan impian para pemain untuk membawa pulang trofi paling bergengsi di dunia sepak bola.
Salah satu pemain yang merasakan kekecewaan mendalam adalah bek Belanda, Jan Paul van Hecke. Pemain yang membela klub Liga Inggris, Brighton & Hove Albion, mengaku masih sulit menerima kenyataan bahwa perjalanan timnya harus berakhir dengan cara yang begitu menyakitkan.
Belanda sebenarnya tampil menjanjikan sepanjang fase grup. Tim asuhan Ronald Koeman sukses keluar sebagai juara Grup F dengan performa impresif, mencetak 10 gol dalam tiga pertandingan dan masuk dalam daftar tim favorit untuk melangkah jauh di turnamen. Namun sepak bola kembali menunjukkan sisi dramatisnya.
Gol Menit Akhir Hancurkan Harapan Oranje
Dalam laga melawan Maroko, Belanda sempat berada di ambang kemenangan. Gol yang dicetak Cody Gakpo membuat Oranje unggul 1-0 dan semakin dekat dengan tiket menuju babak 16 besar.
Keunggulan tersebut bertahan hingga penghujung pertandingan. Para pemain Belanda bahkan sudah mulai membayangkan langkah berikutnya di fase gugur.
Sayangnya, mimpi itu buyar pada menit-menit akhir ketika Maroko berhasil mencetak gol penyeimbang yang memaksa pertandingan berlanjut ke babak tambahan waktu.
Momentum pertandingan pun berubah drastis.
Maroko yang tampil penuh semangat akhirnya berhasil memenangkan adu penalti dan memastikan diri lolos ke babak berikutnya, sementara Belanda harus pulang lebih cepat dari yang diperkirakan banyak pihak.
Van Hecke Akui Sangat Terpukul
Usai pertandingan, Van Hecke tidak dapat menyembunyikan rasa kecewanya.
Menurutnya, kekalahan tersebut menjadi salah satu momen paling menyakitkan dalam kariernya bersama tim nasional.
“Saya benar-benar merasa hampa setelah tersingkir dari turnamen ini. Kami sangat kecewa karena gagal melangkah ke babak berikutnya. Sejak awal kami datang dengan mimpi menjadi juara dunia, sehingga sangat menyakitkan melihat mimpi itu berakhir seperti ini,” ujarnya kepada FIFA.
Bek berusia 26 tahun tersebut menilai timnya sebenarnya sudah tampil cukup baik sepanjang pertandingan.
Belanda mampu mengimbangi permainan Maroko yang dikenal memiliki organisasi permainan solid dan mentalitas kuat sejak keberhasilan mereka mencapai semifinal Piala Dunia 2022 di Qatar.
Belanda Tampil Disiplin, Tetapi Kurang Beruntung
Van Hecke menilai Oranje memainkan babak pertama dengan baik dan berhasil menciptakan sejumlah peluang berbahaya.
Namun setelah unggul, Belanda memilih bermain lebih hati-hati untuk mempertahankan keunggulan.
Menurutnya, strategi tersebut sempat berjalan sesuai rencana hingga akhirnya gol penyeimbang Maroko mengubah segalanya.
“Saya pikir kami menjalani babak pertama yang bagus dan memiliki beberapa peluang emas. Pada babak kedua mungkin kami sedikit terlalu bertahan. Tetapi saya merasa mereka juga tidak menciptakan terlalu banyak peluang berbahaya. Mereka lebih banyak menguasai bola, tetapi tidak banyak ancaman nyata,” katanya.
Kelelahan Jadi Faktor Penting
Setelah pertandingan memasuki babak tambahan waktu, kondisi fisik para pemain Belanda mulai menurun.
Maroko yang lebih dominan dalam penguasaan bola membuat Oranje harus bekerja ekstra keras untuk bertahan.
Van Hecke mengakui bahwa kelelahan menjadi salah satu faktor yang memengaruhi performa timnya pada fase akhir pertandingan.
“Kami mulai kehilangan energi menjelang akhir laga. Karena itu kami mencoba memanfaatkan serangan balik untuk mencari peluang. Kami sudah unggul lebih dulu sehingga sangat menyakitkan ketika kebobolan gol penyama kedudukan di menit-menit akhir. Kemudian kekalahan melalui adu penalti membuat semuanya terasa lebih berat,” ungkapnya.
Kembali Kalah Adu Penalti
Kekalahan dari Maroko juga mengingatkan publik Belanda pada pengalaman pahit di Piala Dunia FIFA Qatar 2022.
Saat itu Belanda juga harus tersingkir melalui adu penalti setelah dikalahkan Argentina pada babak perempat final.
Menjelang laga melawan Maroko, pelatih Ronald Koeman sebenarnya telah menegaskan pentingnya latihan adu penalti.
Namun, seperti yang sering terjadi dalam sepak bola, tekanan pertandingan sesungguhnya tidak bisa sepenuhnya disimulasikan dalam sesi latihan.
Belanda kembali harus menerima kenyataan pahit berada di pihak yang kalah dalam drama tos-tosan.
Meski demikian, Van Hecke memilih untuk tidak mencari kambing hitam atas kegagalan tersebut.
Menurutnya, adu penalti selalu mengandung unsur keberuntungan yang sulit diprediksi.
“Saya rasa tidak banyak yang bisa dijelaskan mengenai adu penalti. Itu adalah bagian dari sepak bola. Terkadang Anda menang, terkadang Anda kalah. Hari ini keberuntungan tidak berpihak kepada kami dan itulah kenyataannya,” katanya.
Saatnya Menatap Masa Depan
Meski tersingkir lebih cepat, Belanda tetap meninggalkan sejumlah catatan positif sepanjang turnamen.
Generasi pemain muda yang dimiliki Oranje menunjukkan potensi besar untuk bersaing di level tertinggi dalam beberapa tahun mendatang.
Bagi Van Hecke dan rekan-rekannya, kekecewaan ini tentu akan menjadi pelajaran berharga untuk menghadapi kompetisi internasional berikutnya.
Namun untuk saat ini, rasa kehilangan masih mendominasi skuad Belanda yang harus menyaksikan impian mereka mengangkat trofi Piala Dunia 2026 berakhir secara menyakitkan di tangan Maroko. (bbs)









