VIRALSUMSEL.COM, JAKARTA – Di tengah maraknya seminar motivasi yang mendorong generasi muda untuk berani bermimpi besar, seorang pembicara justru membuka sesinya dengan pernyataan yang memancing rasa penasaran para peserta.
“Visi itu murah.”
Kalimat tersebut dilontarkan Narko Santoso, CTA., CHt., Founder NS TRADE sekaligus salah satu Top 50 Global Trader, saat menjadi pembicara dalam Leadership Youth Summit (LYS) 4.0 yang digelar Ideal Indonesia di Gedung Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI), Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Ucapan itu langsung menyita perhatian ratusan peserta yang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, komunitas kepemudaan, profesional muda, pelaku industri hingga organisasi kemasyarakatan.
Alih-alih berbicara mengenai cara cepat memperoleh kekayaan, peluang investasi, atau resep sukses secara instan, Narko memilih mengajak peserta melihat kembali fondasi utama di balik setiap cita-cita yang ingin dicapai.
Semua Orang Bisa Bermimpi, Tetapi Tidak Semua Menyiapkan Sistem
Dalam pemaparannya, Narko menilai bahwa hampir setiap orang memiliki impian besar. Namun menurutnya, persoalan terbesar bukanlah kurangnya mimpi, melainkan minimnya sistem yang mampu mengubah mimpi menjadi kenyataan.
Ia menjelaskan bahwa memiliki visi merupakan sesuatu yang relatif mudah karena siapa pun dapat menetapkan target hidup setinggi mungkin. Akan tetapi, keberhasilan baru akan tercapai apabila seseorang mampu membangun mekanisme kerja, disiplin, strategi eksekusi, hingga manajemen risiko yang baik.
“Memiliki visi bukan hal yang sulit karena semua orang bisa bermimpi. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana membangun sistem yang mampu menjalankan visi tersebut, mulai dari cara mengeksekusi, mengelola risiko, hingga mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk,” jelas Narko.
Menurutnya, banyak orang terlalu fokus mencari motivasi baru setiap hari, padahal yang jauh lebih penting adalah menciptakan kebiasaan positif yang bisa dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang.
Kepemimpinan Harus Dibangun dengan Systems Thinking
Leadership Youth Summit 4.0 sendiri menjadi forum kolaborasi yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat untuk membahas isu kepemimpinan, inovasi, literasi finansial, pengembangan sumber daya manusia hingga kesiapan menghadapi transformasi digital.
Dalam sesi diskusi panel, Narko berbagi panggung bersama Biltraviano Ferian Harda, S.Kom., MBIS., Group CEO DOT Indonesia Group, serta Ike Suharjo, S.IP., M.Si., seorang entrepreneur sekaligus politikus.
Ketiganya mengulas kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan Indonesia di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Berbeda dengan pendekatan motivasional yang sering dijumpai, Narko lebih menekankan pentingnya membangun systems thinking atau pola pikir sistematis.
Ia menilai kemampuan tersebut akan menjadi modal utama bagi generasi muda agar mampu bertahan sekaligus berkembang di tengah perubahan zaman yang dipengaruhi perkembangan Artificial Intelligence (AI), digitalisasi, serta disrupsi berbagai sektor industri.
AI Adalah Peluang, Bukan Ancaman
Dalam kesempatan tersebut, Narko juga menyinggung pesatnya perkembangan Artificial Intelligence yang saat ini mulai mengubah berbagai aspek kehidupan.
Menurutnya, AI bukanlah ancaman bagi manusia, melainkan alat yang dapat mempercepat produktivitas apabila digunakan secara tepat.
Namun ia mengingatkan bahwa teknologi secanggih apa pun tidak akan mampu menggantikan karakter, integritas, kedisiplinan, maupun etos kerja seseorang.
Ia menilai generasi muda memang wajar mencari solusi yang lebih cepat dalam menyelesaikan pekerjaan.
Bahkan, menurutnya, orang-orang yang memiliki pola pikir efisien justru menjadi aset penting dalam sebuah organisasi.
Meski demikian, kecepatan tersebut harus tetap dibangun di atas nilai kejujuran dan tanggung jawab.
“Saya justru menyukai orang-orang yang mampu menemukan cara kerja yang lebih cepat dan efisien. Apalagi sekarang kita dibantu teknologi AI. Tetapi percepatan itu harus dilakukan dengan cara yang benar, legal, beretika, dan tidak menghalalkan segala cara,” ujarnya.
Sistem Terbaik Dimulai dari Mengelola Diri Sendiri
Narko menegaskan bahwa membangun sistem tidak selalu dimulai dari organisasi besar.
Menurutnya, sistem terbaik justru berawal dari kemampuan seseorang mengelola dirinya sendiri.
Ia menjelaskan bahwa disiplin mengatur waktu, menentukan prioritas, menjaga ritme kerja, hingga memberikan waktu istirahat yang cukup merupakan fondasi utama sebelum seseorang memimpin orang lain.
Ia mengibaratkan manusia seperti mesin yang juga memiliki batas kemampuan.
Jika dipaksa bekerja tanpa jeda, produktivitas justru akan menurun.
Karena itu, keseimbangan antara produktivitas dan pemulihan menjadi bagian penting dari sistem yang sehat.
“Bangunlah sistem mulai dari diri sendiri. Atur waktu dengan baik, tentukan prioritas, jaga ritme kerja, dan jangan abaikan waktu untuk beristirahat. Setelah itu barulah kita berbicara tentang membangun sistem dalam organisasi. Sistem yang baik selalu dirancang untuk menghadapi lima hingga sepuluh tahun ke depan, bukan hanya menyelesaikan pekerjaan hari ini,” katanya.
Antusiasme Peserta Warnai Forum Kepemimpinan
Selama sesi berlangsung, para peserta tampak antusias mengikuti diskusi.
Berbagai pertanyaan muncul mengenai kepemimpinan, pengembangan karier, peluang bisnis, pemanfaatan AI, hingga cara membangun mental yang tangguh dalam menghadapi perubahan global.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Tommy Tarumanegara, Chief Strategic & Execution Officer (CSEO) NS TRADE.
Selain mengikuti rangkaian acara, Tommy juga aktif membangun jejaring dengan peserta, akademisi, komunitas, pelaku industri, serta berbagai pemangku kepentingan yang hadir dalam forum tersebut.
Di penghujung sesi, Narko berharap generasi muda Indonesia mulai mengubah cara pandang mengenai makna kesuksesan.
Baginya, masa depan tidak akan dimenangkan oleh mereka yang sekadar memiliki motivasi paling tinggi atau mimpi paling besar.
Sebaliknya, kesuksesan akan diraih oleh individu yang disiplin membangun sistem kerja, mampu mengeksekusi ide secara konsisten, serta siap beradaptasi dengan setiap perubahan.
“Yang membedakan seseorang bukan seberapa besar impiannya, melainkan seberapa disiplin ia membangun sistem yang membuat impian tersebut benar-benar bisa diwujudkan,” pungkasnya. (bbs)










