PALEMBANG, viralsumsel.com – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. H. Herman Deru mendorong program Kepala Desa Masuk Kampus (KDMK) Angkatan III di Universitas Sriwijaya (Unsri) tidak sekadar menjadi sarana peningkatan kapasitas peserta, tetapi juga dikembangkan sebagai training of trainers (ToT). Melalui konsep tersebut, kepala desa yang mengikuti pelatihan diharapkan dapat menyebarluaskan ilmu, pengetahuan, dan praktik baik kepada kepala desa lainnya.
Pesan itu disampaikan Herman Deru saat memberikan sambutan dalam kegiatan KDMK Angkatan III di Kampus Unsri Bukit Besar, Palembang, Rabu (4/11/2026). Ia meminta para peserta memanfaatkan kesempatan belajar di perguruan tinggi untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan dan membagikan pengetahuan yang diperoleh di wilayah masing-masing.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri Dr. Bima Arya Sugiarto, Direktur Jenderal Bina Pemerintahan Desa Kementerian Dalam Negeri Dr. Benhard Rundonuwu, serta Rektor Unsri Prof. Taufiq Marwa.
Menurut Herman Deru, peningkatan kualitas kepala desa tidak boleh berhenti pada peserta yang mengikuti kegiatan. Pengetahuan yang diperoleh harus menjadi bekal untuk membantu desa-desa lain berkembang melalui pertukaran pengalaman dan penerapan praktik terbaik.
Kepala Desa Harus Memahami Potensi dan Persoalan Wilayah
Herman Deru menyampaikan terdapat sembilan pokok penting yang perlu dikembangkan oleh kepala desa dalam menjalankan tugas dan membangun wilayahnya. Pokok-pokok tersebut menjadi bekal untuk memperkuat kepemimpinan serta mendorong kemajuan desa.
Salah satu hal mendasar yang harus dimiliki kepala desa adalah kemampuan mengenali kondisi wilayah secara menyeluruh. Kepala desa dituntut memahami persoalan sekaligus potensi yang dimiliki, mulai dari sektor pertanian, ekonomi, hingga berbagai bidang pembangunan lainnya.
“Dengan mengetahui persoalan yang ada, kita baru bisa membaca potensi yang dimiliki desa. Jadi, pahami dulu apa masalahnya, kemudian bagaimana potensi tersebut bisa dikembangkan,” ujarnya.
Ia menilai pemahaman yang baik terhadap kondisi desa akan membantu pemerintah desa menentukan arah pembangunan yang tepat sasaran.
Digitalisasi dan Penguasaan Teknologi Jadi Kebutuhan
Selain memahami potensi wilayah, Herman Deru menekankan pentingnya penguasaan teknologi dan digitalisasi bagi kepala desa.
Menurutnya, semakin luasnya akses internet dan kondisi zero blank spot di Sumsel membuat masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi melalui berbagai platform digital, seperti TikTok, Facebook, Instagram, dan media sosial lainnya.
Situasi tersebut menuntut kepala desa memiliki kemampuan dalam menyikapi derasnya arus informasi. Sebagai pemimpin di tingkat desa, kepala desa harus mampu menjadi penyaring informasi agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang belum tentu benar.
“Informasi sekarang tidak terbendung. Karena itu, kepala desa harus bisa menjadi filter. Manfaatkan perangkat desa untuk membantu, karena kita tidak bisa bergerak sendiri. Semuanya sudah serba terbuka,” tegasnya.
Herman Deru juga meminta kepala desa memanfaatkan aplikasi dan teknologi untuk meningkatkan kualitas pelayanan serta mendukung pembangunan. Menurutnya, perencanaan yang tepat dapat membuat anggaran terbatas menjadi lebih optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Perdes Jadi Model Pencegahan Karhutla
Dalam kesempatan tersebut, Herman Deru mencontohkan keberhasilan Desa Germon di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dari 101 desa yang memiliki potensi karhutla di OKI, Desa Germon disebut mampu terhindar dari karhutla melalui penerapan Peraturan Desa (Perdes).
Menurut Herman Deru, keberhasilan tersebut bukan semata-mata ditentukan oleh banyaknya sarana pemadam kebakaran, melainkan juga karena adanya aturan desa yang menjadi pedoman bersama dalam melakukan pencegahan.
Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi contoh bagi desa-desa lainnya. Ia bahkan mendorong perguruan tinggi, khususnya Fakultas Hukum Unsri, untuk membantu pemerintah desa menyusun Perdes sesuai kebutuhan dan persoalan yang dihadapi.
“Ini salah satu contoh bagaimana persoalan di desa bisa dijembatani oleh kampus. Fakultas Hukum bisa membantu desa membuat Perdes, sehingga ada aturan yang menjadi pegangan bersama,” jelasnya.
Herman Deru berharap Unsri melalui berbagai fakultas yang dimiliki dapat berperan sebagai navigator pembangunan desa. Dengan demikian, keilmuan yang dikembangkan di kampus dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Bima Arya: Kepemimpinan Menentukan Kemajuan Desa
Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri Dr. Bima Arya Sugiarto menekankan bahwa kemajuan desa sangat ditentukan oleh kepemimpinan yang visioner, inovatif, serta mampu membaca kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, pembangunan tidak selalu bergantung pada besarnya anggaran. Kemampuan pemimpin menggali potensi, menentukan prioritas, dan menghadirkan solusi konkret justru menjadi faktor penting dalam menciptakan perubahan.
Dalam arahannya, Bima Arya memberikan sejumlah contoh kepemimpinan di tingkat lingkungan dan desa yang mampu menghadirkan inovasi sederhana dengan dampak besar.
Salah satunya adalah Ketua RT Taufiq Suoriyaei di Kelurahan Malaka Jaya, Jakarta Timur. Ia melakukan berbagai pembenahan lingkungan, mulai dari penghijauan gang, pemasangan kamera pengawas (CCTV), pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya, hingga transparansi laporan keuangan.
Inovasi lainnya berupa pengembangan peternakan di bagian atas dan lubang biopori di bawah trotoar. Berbagai upaya tersebut menarik perhatian banyak pihak dan membuka peluang dukungan, termasuk melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR). Kiprahnya bahkan mendapat perhatian hingga diundang ke China.
Bima Arya juga mencontohkan seorang kepala desa yang tetap berupaya mengembangkan potensi masyarakat meskipun menghadapi kondisi kas desa yang defisit. Dukungan terhadap kegiatan anak-anak di desa tersebut berhasil mengantarkan mereka meraih Juara I dalam ajang Learning Village tingkat internasional.
“Dari dua contoh ini kita belajar bahwa kepemimpinan sangat menentukan. Siapa pemimpinnya dan apa yang dilakukan, itulah yang akan dirasakan masyarakat. Bapak dan ibu yang terpilih menjadi pemimpin di desa memiliki potensi. Intan-intan yang berkilau ini harus tetap berkilau sampai di ujung,” pesannya.
Smart Village Berawal dari Smart Data
Bima Arya menilai para kepala desa perlu terus mengasah potensi kepemimpinan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi. Setiap pemimpin harus memiliki visi, nilai-nilai yang diperjuangkan, serta prioritas yang jelas dalam pembangunan.
Ia mengingatkan agar kepala desa tidak terjebak dalam kegiatan seremonial yang minim substansi. Program pembangunan harus diarahkan pada kegiatan konkret yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Negara hadir itu bisa dirasakan masyarakat di loket Dukcapil, di Posyandu, dan ketika petugas berhasil memberikan pelayanan dengan baik. Jadi, kita harus fokus menghadirkan negara melalui hal-hal konkret yang benar-benar dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Lebih lanjut, Bima Arya menekankan pentingnya penguasaan data sebagai dasar pengambilan keputusan. Menurutnya, pembangunan desa harus diawali dengan pemahaman terhadap kondisi masyarakat dan potensi wilayah.
“Smart village berawal dari smart data. Data adalah bahan baku inovasi desa. Karena itu, kepala desa harus memiliki dan memahami data mengenai kemiskinan, pendidikan, stunting, kesehatan, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), kebencanaan, lingkungan, UMKM, hingga potensi ekonomi desa,” jelasnya.
Selain penguatan data, kolaborasi dengan berbagai pihak juga menjadi faktor penting dalam mengembangkan potensi desa, termasuk sektor pariwisata dan ekonomi lokal.
Melalui program KDMK Angkatan III, para kepala desa diharapkan mampu memperkaya wawasan, meningkatkan kompetensi, dan membangun jejaring kerja sama. Ilmu yang diperoleh dari Unsri diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi peserta, tetapi juga menyebar ke desa-desa lainnya.
Dengan kepemimpinan yang kuat, pemanfaatan data, penentuan prioritas, serta kolaborasi yang berkelanjutan, pembangunan desa di Sumsel diharapkan semakin mandiri dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (win/ion)






