BANYUASIN, viralsumsel.com – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru menegaskan pentingnya menjaga kelestarian hutan sebagai salah satu fondasi utama keberlanjutan sumber daya air dan kehidupan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Herman Deru saat mendampingi Menteri Kehutanan Republik Indonesia Raja Juli Antoni dan Ketua Komisi IV DPR RI dalam peresmian Persemaian Sriwijaya Kemampo di Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Banyuasin III, Kabupaten Banyuasin, Jumat (7/8/2026).
Dalam kesempatan itu, Herman Deru menyoroti keterkaitan erat antara kondisi kawasan hutan di wilayah hulu dengan keberlangsungan sumber daya air. Menurutnya, hutan yang terjaga mampu memberikan manfaat besar bagi masyarakat, termasuk dalam mendukung ketersediaan energi berbasis air.
Ia mencontohkan Kota Pagar Alam yang sebagian besar kebutuhan listriknya ditopang oleh pembangkit listrik tenaga air. Kondisi tersebut tidak terlepas dari keberadaan kawasan hutan di wilayah hulu yang masih mampu menjaga ketersediaan debit air.
Menurut Herman Deru, keberhasilan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah, Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, serta masyarakat yang secara konsisten menjaga kawasan hutan.
“Terjaganya kawasan hutan memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat. Apa yang terjadi di Pagar Alam menjadi salah satu contoh bahwa kelestarian hutan memiliki hubungan langsung dengan keberlangsungan sumber daya air,” kata Herman Deru.
Hutan Lindungi Masyarakat dari Ancaman Bencana
Herman Deru juga mengingatkan bahwa hutan bukan sekadar kawasan yang memiliki nilai ekologis, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan pembangunan daerah.
Menurutnya, Sumatera Selatan memiliki kekayaan alam berupa hutan yang menjadi habitat beragam flora dan fauna. Keberadaan kawasan hutan yang tetap terjaga juga berperan sebagai salah satu benteng alami dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
Ia menyebut kondisi Sumsel yang relatif terhindar dari dampak sejumlah bencana besar yang melanda daerah lain di Indonesia tidak terlepas dari upaya menjaga keseimbangan lingkungan.
Karena itu, Herman Deru memberikan apresiasi kepada seluruh pihak yang selama ini terlibat dalam menjaga kawasan hutan, terutama masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan.
“Petugas di lapangan tentu memiliki peran penting, tetapi masyarakat adalah bagian yang tidak kalah menentukan. Mereka telah menjaga hutan karena menyadari bahwa keberadaan hutan juga berkaitan langsung dengan kehidupan mereka,” ujarnya.
Kearifan Lokal Jadi Modal Pelestarian
Lebih lanjut, Herman Deru mengatakan masyarakat Sumatera Selatan sejak lama memiliki berbagai bentuk kearifan lokal dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Salah satunya melalui tradisi lubuk larangan, yakni upaya masyarakat menjaga kawasan perairan tertentu agar habitat ikan tetap terlindungi. Selain itu, terdapat pula kawasan hutan larangan yang dijaga berdasarkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kelestarian lingkungan.
Menurutnya, kesadaran tersebut kemudian diperkuat dengan adanya aturan dan penegakan hukum sehingga upaya perlindungan lingkungan dapat berjalan secara berkelanjutan.
Namun, di sisi lain, Herman Deru menilai pengawasan kawasan hutan masih menghadapi tantangan, terutama berkaitan dengan keterbatasan jumlah personel Polisi Kehutanan (Polhut).
Ia berharap pemerintah pusat memberikan perhatian terhadap kebutuhan penambahan personel Polhut. Hal itu dinilai penting mengingat wilayah pengawasan yang sangat luas, termasuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang membentang di beberapa provinsi.
“Dengan luas kawasan yang harus diawasi, tentu diperlukan dukungan personel yang memadai. Penambahan Polhut akan membantu pengawasan dan perlindungan hutan agar lebih maksimal,” jelasnya.
Karhutla Jadi Perhatian
Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi perhatian Gubernur Sumsel.
Herman Deru menyebut Sumatera Selatan memiliki kawasan gambut yang luasnya mencapai sekitar 1,4 juta hektare. Kondisi tersebut membuat sejumlah wilayah memiliki tingkat kerawanan terhadap karhutla, baik yang dipicu aktivitas manusia maupun faktor alam.
Karena itu, ia menegaskan bahwa pencegahan harus menjadi langkah utama. Pemerintah bersama masyarakat perlu membangun kesadaran untuk menjaga kawasan hutan dan lahan agar tidak mudah terbakar.
Ia juga menegaskan bahwa praktik perladangan berpindah yang dahulu dikenal di sejumlah wilayah kini tidak lagi menjadi kebiasaan mayoritas masyarakat Sumatera Selatan. Sebagian besar petani telah mengelola lahan secara menetap sehingga upaya pengendalian aktivitas pembukaan lahan dapat dilakukan dengan lebih baik.
Perkuat Rasa Memiliki terhadap Hutan
Herman Deru mengatakan Pemerintah Provinsi Sumsel bersama pemerintah kabupaten dan kota terus mendorong masyarakat agar memiliki kepedulian sekaligus rasa memiliki terhadap lingkungan.
Menurutnya, pendekatan tersebut penting karena pelestarian hutan tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat yang hidup berdampingan dengan kawasan hutan harus menjadi bagian utama dalam menjaga keberlangsungannya.
Peresmian Persemaian Sriwijaya Kemampo diharapkan semakin memperkuat upaya rehabilitasi dan pelestarian hutan di Sumatera Selatan.
Herman Deru pun menyampaikan apresiasi atas kehadiran Menteri Kehutanan beserta jajaran kementerian yang dinilai memberikan energi positif bagi para pegiat kehutanan dan masyarakat dalam memperkuat komitmen menjaga lingkungan.
Ia juga mengapresiasi kontribusi berbagai pihak, termasuk dunia usaha, yang turut mendukung agenda pelestarian hutan.
“Kolaborasi harus terus diperkuat. Apa yang kita jaga hari ini bukan hanya untuk kepentingan generasi sekarang, tetapi juga menjadi warisan bagi anak cucu kita di masa depan,” pungkas Herman Deru. (bbs/ion)






