Inovatif! Karyawan PLTU Jadi Orangtua Asuh Anak Stunting di Lahat

LAHAT, viralsumsel.com – Komitmen dunia usaha dalam mendukung penanganan stunting kembali ditunjukkan oleh PT Bukit Pembangkit melalui pengelolaan PLTU Banjarsari. Memasuki tahun 2026, perusahaan ini terus menggencarkan program inovatif bertajuk gerakan orangtua asuh stunting sebagai bagian dari upaya percepatan penurunan angka stunting di wilayah sekitar operasional.

Program yang telah berjalan sejak 2021 ini kini menargetkan penurunan hingga 50 persen jumlah anak penderita stunting, khususnya di desa-desa yang berada dalam cakupan wilayah kerja perusahaan. Berdasarkan pantauan di lapangan pada Rabu (29/4/2026), sejumlah karyawan PLTU Banjarsari turun langsung mengunjungi rumah-rumah anak yang mengalami stunting.

Kegiatan tersebut tidak sekadar bersifat simbolis. Dalam setiap kunjungan, para karyawan yang berperan sebagai “orangtua asuh” aktif berinteraksi dengan keluarga, memantau perkembangan anak, serta memberikan dukungan moral dan motivasi. Selain itu, dilakukan pula pemeriksaan kesehatan secara langsung bekerja sama dengan Puskesmas GGB di Kecamatan Merapi Timur.

Baca Juga :  Cepat Antisipasi Corona, Camat Sako Minta Warga Patuhi Surat "Cinta" Walikota

Berbagai intervensi dilakukan secara terpadu, mulai dari edukasi pola asuh yang tepat, pemenuhan gizi seimbang, pemberian vitamin khusus stunting, hingga peningkatan kesadaran akan pentingnya sanitasi dan kebersihan lingkungan. Program ini juga menyentuh aspek ketahanan pangan keluarga sebagai upaya jangka panjang.

Manager Umum PLTU Banjarsari, Faza Ikhwana, menjelaskan bahwa sejak awal pelaksanaan pada 2021, jumlah anak stunting di desa sekitar mencapai 42 kasus. Namun berkat pendekatan kolaboratif yang melibatkan tenaga kesehatan, pemerintah desa, serta kader posyandu, angka tersebut berhasil ditekan menjadi hanya 8 kasus hingga akhir 2025.

“Tahun ini kami optimistis angka tersebut bisa kembali ditekan hingga 50 persen, bahkan diharapkan ada desa yang benar-benar bebas dari stunting,” ujarnya.

Baca Juga :  PLTU Banjarsari Salurkan Bantuan Material FABA untuk Korban Kebakaran di Lahat

Adapun desa yang menjadi fokus intervensi meliputi Desa Sirahpulau, Desa Gunung Kembang, dan Desa Prabumenang di Kecamatan Merapi Timur. Program orangtua asuh dinilai menjadi salah satu inovasi efektif karena menciptakan hubungan emosional antara karyawan perusahaan dan keluarga anak stunting.

Kepala Puskesmas GGB, Rheni Yunita, turut mengapresiasi langkah tersebut. Menurutnya, pendekatan berbasis kedekatan sosial seperti ini mampu mempercepat perubahan perilaku keluarga dalam hal pengasuhan dan pemenuhan gizi anak.

“Dengan adanya pendampingan langsung, peluang anak untuk keluar dari kondisi stunting menjadi lebih besar,” jelasnya.

Program ini diharapkan menjadi model kolaborasi antara sektor swasta dan layanan kesehatan dalam menanggulangi stunting secara berkelanjutan, sekaligus menciptakan generasi yang lebih sehat dan berkualitas di masa depan. (ton)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *