PALEMBANG, viralsumsel.com – Suasana pagi di kawasan Pasar 16 Ilir tampak lebih hidup dari biasanya, Jumat (24/4/2026). Di tengah padatnya aktivitas jual beli, kehadiran Agung Firman Sampurna menjadi perhatian tersendiri.
Tanpa protokoler berlebihan, ia terlihat santai berbaur dengan pedagang dan masyarakat, menikmati kuliner khas Palembang yang dikenal dengan sebutan “pempek tumpah”.
“Pempek tumpah” sendiri merupakan istilah lokal yang menggambarkan penyajian pempek dalam jumlah besar di atas meja atau wadah lebar.
Cara penyajian ini memberi kebebasan kepada pembeli untuk memilih berbagai jenis pempek sesuai selera. Tradisi ini menjadi salah satu daya tarik kuliner khas di Pasar 16 Ilir, yang hingga kini tetap eksis sebagai pusat ekonomi rakyat di tengah derasnya modernisasi kota.
Bagi Agung, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda santai, melainkan bagian dari perjalanan emosional kembali ke kampung halaman. Sosok yang pernah menjabat sebagai Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia periode 2019–2022 itu mengaku memiliki ikatan kuat dengan Palembang.
Ia juga dikenal sebagai mantan Ketua Umum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) periode 2020–2024 dan saat ini menjabat sebagai Komisaris Utama di MNC Asia Holding.
“Sudah lama saya tinggal di Jakarta, tetapi rasa Palembang, khususnya pempek, selalu punya tempat tersendiri. Saya tumbuh dan besar di sini, jadi ada ikatan yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya dengan nada penuh nostalgia.
Kehadiran Agung di Palembang juga bertepatan dengan agenda nasional bertajuk Halal Bihalal Masyarakat Perantau Sumbagsel 2026. Forum tersebut dihadiri sejumlah tokoh penting, di antaranya Sufmi Dasco Ahmad, Tito Karnavian, Zulkifli Hasan, Yandri Susanto, serta Sultan Bachtiar Najamudin.
Dalam kesempatan tersebut, Agung juga menyoroti pentingnya peran pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai tulang punggung ekonomi nasional. Menurutnya, keberadaan pedagang pempek di Pasar 16 Ilir merupakan contoh nyata ekonomi kerakyatan yang harus terus dijaga dan diperkuat.
Ia menekankan bahwa dukungan terhadap UMKM tidak selalu harus dalam bentuk kebijakan besar, tetapi juga melalui tindakan sederhana seperti membeli produk lokal.
“Ketika kita membeli produk UMKM, kita sebenarnya ikut menjaga keberlangsungan usaha mereka. Ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal keberlanjutan kehidupan banyak keluarga,” ungkapnya.
Sebagai akademisi yang juga mengajar di Universitas Indonesia, Agung menilai pembangunan ekonomi nasional harus berpijak pada kekuatan sektor akar rumput. Ia menegaskan bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan hanya dapat tercapai jika masyarakat kecil ikut merasakan dampaknya secara langsung.
Kehadiran Agung di tengah pasar tradisional menjadi gambaran sosok tokoh nasional yang tetap membumi. Ia hadir bukan sekadar sebagai pejabat atau profesional, tetapi sebagai bagian dari masyarakat Palembang—“wong kito galo”—yang tetap menjaga identitas budaya dan kedekatan sosial.
Di antara aroma cuko yang khas dan deretan pempek yang tersaji melimpah, momen tersebut menjadi simbol sederhana tentang kecintaan terhadap kampung halaman. Sebuah pertemuan antara kenangan, budaya, dan ekonomi rakyat yang terus hidup di jantung Kota Palembang. (ril)






