VIRALSUMSEL.COM – Babak 32 besar Piala Dunia FIFA 2026 menghadirkan satu pertandingan yang sarat emosi. Belgia akan menghadapi Senegal, namun bagi gelandang Amadou Onana, laga ini bukan sekadar duel memperebutkan tiket ke babak berikutnya.
Di balik seragam merah yang dikenakannya bersama Belgia, tersimpan ikatan batin yang begitu kuat dengan Senegal, negara tempat ia dilahirkan. Pertandingan di Seattle pun menjadi momen yang penuh dilema bagi pemain Aston Villa tersebut.
Bagi Onana, membela Belgia adalah sebuah kehormatan. Namun, kecintaannya kepada Lions of Teranga atau Timnas Senegal tak pernah pudar sejak kecil.
Onana Sempat Berharap Tidak Bertemu Senegal
Sebelum Piala Dunia FIFA 2026 dimulai, sebuah wawancara lama Amadou Onana kembali menjadi perhatian publik. Dalam wawancara tersebut, ia mengaku sempat berharap hasil undian tidak mempertemukan Belgia dengan Senegal.
Bahkan, ia rela menghadapi lawan mana pun dibandingkan harus bermain melawan negara kelahirannya. “Saat pengundian berlangsung, saya hanya berpikir, jangan sampai kami bertemu Senegal. Beri saya Prancis atau siapa pun, tetapi jangan Senegal,” ungkap Onana.
Ucapan tersebut menggambarkan betapa besar ikatan emosional yang dimiliki gelandang berusia muda itu dengan tanah kelahirannya.
Dakar Selalu Menjadi Rumah
Meski kini menjadi pemain andalan Belgia, Onana tidak pernah melupakan akar kehidupannya. Ia lahir di Dakar dan menghabiskan masa kecil dengan budaya Senegal yang begitu melekat dalam kehidupannya.
Menurut Onana, bahasa pertama yang ia kuasai bahkan bukan bahasa Prancis, melainkan bahasa Wolof, bahasa yang umum digunakan masyarakat Senegal.
“Saya memiliki hubungan yang sangat kuat dengan Senegal. Saya lahir di Dakar, seluruh keluarga besar saya tinggal di sana. Hanya ibu dan saudara-saudara saya yang menetap di Brussels. Saya selalu pulang setiap tahun untuk mengisi kembali energi,” ujarnya.
Bagi Onana, Senegal bukan sekadar tempat kelahiran, tetapi juga rumah yang selalu dirindukan.
Penggemar Berat Lions of Teranga
Kecintaan Onana terhadap Senegal tidak berhenti pada hubungan keluarga. Ia juga merupakan pendukung setia Timnas Senegal sejak kecil.
Setiap kali Lions of Teranga bertanding, Onana selalu berusaha menyaksikannya, termasuk saat berlangsungnya Piala Afrika.
“Kalau Anda bertanya kepada ibu saya, beliau akan mengatakan bahwa setiap Senegal bermain, saya pasti berada di depan televisi. Saya juga memiliki banyak teman di skuad Senegal. Saat Piala Afrika berlangsung, saya benar-benar mengikuti semuanya,” katanya.
Hubungan pertemanan dengan sejumlah pemain Senegal semakin membuat pertandingan melawan negara kelahirannya terasa emosional.
Tetap Profesional Bersama Belgia
Meski memiliki kedekatan emosional dengan Senegal, Onana menegaskan profesionalisme tetap menjadi prioritas.
Kesetiaannya sebagai pemain internasional kini sepenuhnya diberikan kepada Belgia.
Pada fase grup Piala Dunia 2026, Onana tampil sebagai starter saat Belgia bermain imbang 1-1 melawan Mesir.
Ia kemudian berada di bangku cadangan ketika Belgia bermain tanpa gol melawan Iran sebelum tampil sebagai pemain pengganti dalam kemenangan telak 5-1 atas Selandia Baru yang memastikan langkah Belgia ke babak 32 besar.
Di sisi lain, Senegal berhasil bangkit setelah sempat kalah dari Prancis dan Norwegia.
Kemenangan meyakinkan 5-0 atas Irak membuat Lions of Teranga lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
Takdir pun akhirnya mempertemukan dua negara yang sama-sama memiliki tempat istimewa di hati Onana.
Tak Pernah Dipanggil Senegal
Menariknya, perjalanan karier internasional Onana sebenarnya tidak pernah melibatkan Senegal.
Ia mengaku tidak pernah sekalipun menerima panggilan memperkuat tim nasional Senegal, bahkan sejak level kelompok umur.
Sebaliknya, Belgia memberikan kesempatan kepadanya berkembang melalui seluruh jenjang tim nasional hingga akhirnya menjadi bagian penting skuad senior Red Devils.
“Saya tidak pernah dipanggil tim nasional Senegal. Tidak pernah,” ungkapnya.
Keputusan membela Belgia akhirnya menjadi jalan karier yang membawanya tampil di panggung sepak bola dunia.
Lebih dari Sekadar Pertandingan
Di luar lapangan, Onana juga dikenal aktif mendukung perkembangan sepak bola Senegal.
Ia menjadi duta International Football Academy, akademi pembinaan pemain muda yang berbasis di Tivaouane.
Selain itu, kecintaannya terhadap budaya dan kuliner Senegal juga tidak pernah berubah meski kini berkarier di Eropa.
Namun semua kenangan dan rasa cinta itu harus dikesampingkan selama 90 menit pertandingan berlangsung.
Saat peluit awal dibunyikan, Onana tetap akan berjuang sepenuh hati demi membawa Belgia melaju ke babak berikutnya.
Meski demikian, apa pun hasil akhirnya nanti, laga tersebut dipastikan akan meninggalkan perasaan yang berbeda bagi gelandang yang memiliki dua identitas dalam satu hati itu. (bbs)












