JAKARTA, VIRALSUMSEL.COM – Hari kedua UPH Festival 2026 yang berlangsung pada 14 Agustus 2026 menjadi momentum bagi mahasiswa baru Universitas Pelita Harapan (UPH) untuk memahami makna pendidikan secara lebih luas.
Tidak hanya diarahkan untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia profesional, mahasiswa baru diajak melihat pendidikan sebagai bagian dari panggilan hidup. Ilmu, iman, talenta dan bidang keahlian yang nantinya ditekuni diharapkan dapat digunakan untuk menjawab berbagai persoalan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Mengangkat tema “Imago Dei: Created by God, Restored in Christ, Called to Transform”, rangkaian kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai bidang. Pembahasan mencakup kesehatan, teknologi, hukum, sains hingga bisnis dengan satu benang merah, yakni bagaimana pengetahuan dan kemampuan manusia digunakan secara bertanggung jawab.
Perspektif mengenai panggilan hidup tersebut diawali melalui sesi bersama Pdt. Jimmy Pardede, Gembala Sidang Gereja Reformed Injili Indonesia (GRII) Karawaci.
Dalam sesi tersebut, mahasiswa diingatkan bahwa pendidikan, pekerjaan dan kehidupan sehari-hari tidak dapat dipisahkan dari panggilan Tuhan. Talenta dan kemampuan yang dimiliki setiap individu diharapkan tidak berhenti pada pencapaian pribadi, tetapi dapat diarahkan untuk menjalankan tujuan hidup dan memberikan kontribusi bagi sesama.
Pesan tersebut kemudian diperluas melalui berbagai sesi yang menghubungkan nilai-nilai iman dengan bidang keilmuan yang akan dihadapi mahasiswa selama menempuh pendidikan di UPH.
Kesehatan dan Pentingnya Menghormati Martabat Manusia
Pada sesi “Medicine, Suffering & Human Dignity”, CEO Siloam Hospitals Group Caroline Riady, B.A., M.A., mengajak mahasiswa memahami profesi kesehatan dari perspektif yang lebih utuh.
Ia menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki nilai dan martabat karena diciptakan oleh Allah. Kondisi seseorang yang mengalami sakit, disabilitas maupun kelemahan tidak menghilangkan nilai kemanusiaannya.
Pembahasan tersebut dikaitkan dengan biblical storyline of God’s redemptive work, mulai dari penciptaan (creation), kejatuhan manusia ke dalam dosa (fall), penebusan (redemption) hingga pemulihan sempurna (consummation).
Dalam kerangka tersebut, kesehatan tidak hanya berbicara mengenai penyakit dan tindakan medis. Lebih luas, bidang kesehatan berkaitan dengan bagaimana seorang manusia dipahami, dirawat dan diperlakukan dengan penuh penghormatan.
Caroline menekankan bahwa pasien harus dipandang sebagai pribadi yang memiliki martabat. Karena itu, tenaga kesehatan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan profesional, tetapi juga memiliki kepedulian, belas kasih dan komitmen untuk melayani.
Mahasiswa pun diajak memahami bahwa ilmu kesehatan seharusnya digunakan untuk merawat manusia secara utuh dan menghargai nilai kemanusiaannya.
Teknologi dan AI Jangan Menghilangkan Kemampuan Berpikir
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) juga menjadi salah satu pembahasan penting dalam UPH Festival 2026.
Dalam sesi “AI, Technology & What Makes Us Human”, Executive Dean College of Emerging Sciences (CES) UPH Dr. Rizaldi Sistiabudi, B.Sc.Eng., M.S.E., mengajak mahasiswa mempertanyakan kembali apa yang membuat manusia tetap memiliki keunikan ketika teknologi semakin mampu melakukan berbagai pekerjaan.
Menurutnya, kemajuan AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat untuk membantu manusia belajar dan menghasilkan karya, bukan sebagai jalan pintas yang membuat kemampuan berpikir semakin berkurang.
Mahasiswa diingatkan untuk tetap membaca, memahami dan mengkritisi informasi yang diperoleh melalui teknologi. Ketergantungan berlebihan terhadap AI dikhawatirkan membuat manusia kehilangan kemampuan berpikir kritis dan proses belajar yang seharusnya dijalani.
Karena itu, teknologi perlu ditempatkan secara proporsional. AI dapat membantu manusia, tetapi tidak seharusnya menggantikan identitas, iman, kemampuan berpikir maupun hubungan manusia dengan Tuhan.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi mahasiswa baru yang akan memasuki dunia akademik di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
Hukum, Kebebasan dan Tanggung Jawab
Sementara itu, Dr. Velliana Tanaya, S.H., M.H., Executive Dean for College of Arts and Social Sciences (CASS) sekaligus Dekan Fakultas Hukum UPH, membahas persoalan keadilan melalui sesi “Justice, Law & The Common Good”.
Mahasiswa diajak memahami bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh kekayaan, kemampuan intelektual, status sosial maupun jabatan. Nilai manusia melekat karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah.
Pembahasan kemudian diarahkan pada bagaimana kebebasan dan kekuasaan digunakan secara bertanggung jawab.
Menurut Velliana, kekuasaan tanpa tanggung jawab dapat berujung pada ketidakadilan. Karena itu, ketika seseorang memperoleh kewenangan, pengetahuan maupun posisi yang memungkinkan dirinya mengambil keputusan, semua itu seharusnya digunakan untuk melayani, melindungi dan memberikan manfaat bagi kepentingan bersama.
Integritas juga menjadi salah satu nilai yang ditekankan. Mahasiswa diingatkan bahwa integritas dapat dimulai dari tindakan sederhana dalam kehidupan akademik, seperti tidak menyontek, menghindari plagiarisme, menepati janji serta berkomitmen menyampaikan kebenaran.
Nilai tersebut diharapkan tetap menjadi pegangan ketika mahasiswa nantinya memperoleh gelar, pengetahuan dan posisi yang lebih besar dalam kehidupan profesional.
Sains dan Iman Tidak Harus Dipertentangkan
Hubungan antara ilmu pengetahuan dan iman menjadi pembahasan dalam sesi “Faith and Science” yang disampaikan Rev. Yohanes Halim, Senior Pastor Christ Chapel Karawaci (CCK).
Pertanyaan mengenai apakah seseorang cukup pintar untuk percaya kepada Allah menjadi pembuka diskusi yang mengajak mahasiswa melihat hubungan antara iman dan ilmu pengetahuan secara lebih kritis.
Dalam perspektif Kristen Reformed, mahasiswa diajak memahami bahwa Allah menyatakan diri melalui ciptaan dan Firman-Nya. Ketika manusia menemukan hal yang dianggap bertentangan, keterbatasan manusia dalam memahami pengetahuan perlu diakui.
Rev. Yohanes juga membedakan antara sains dan scientism. Sains dapat menjadi sarana penting untuk memahami alam semesta dan menghasilkan pengetahuan, tetapi tidak semua persoalan kehidupan manusia dapat dijawab hanya melalui pengukuran dan pembuktian ilmiah.
Karena itu, mahasiswa didorong memiliki kerendahan hati dalam belajar. Pengetahuan yang dimiliki perlu terus diuji dan dikembangkan dengan kesadaran bahwa manusia tetap memiliki keterbatasan.
Bisnis dan Uang sebagai Sarana Memberi Manfaat
Pembahasan mengenai bisnis dan pengelolaan sumber daya disampaikan Dra. Gracia Shinta S. Ugut, MBA., Ph.D., Executive Dean for College of Business and Technology sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UPH.
Melalui sesi “Money, Business & The Good Life”, mahasiswa diajak melihat bisnis tidak semata-mata sebagai aktivitas untuk memperoleh keuntungan.
Bisnis juga dapat menjadi sarana menciptakan nilai, menyelesaikan persoalan, membuka peluang kesejahteraan dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
Menurut Gracia, uang bukan sesuatu yang harus dipandang sebagai hal buruk. Persoalan muncul ketika uang berubah menjadi tujuan utama dan membuat seseorang dikuasai keserakahan.
Karena itu, mahasiswa didorong belajar mengelola uang serta berbagai sumber daya secara bertanggung jawab. Ukuran keberhasilan tidak semata-mata terletak pada jumlah kekayaan yang dimiliki, tetapi pada bagaimana sumber daya tersebut digunakan untuk memberikan manfaat.
Pendidikan untuk Membentuk Pemimpin yang Berdampak
Rangkaian sesi dalam hari kedua UPH Festival 2026 menunjukkan bahwa dunia akan terus mengalami perubahan. Teknologi berkembang, kebutuhan masyarakat berubah dan tantangan di berbagai bidang semakin kompleks.
Namun, pertanyaan mengenai bagaimana manusia menggunakan ilmu, talenta, teknologi, kekuasaan dan sumber daya yang dimilikinya tetap menjadi persoalan penting.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa baru UPH diarahkan untuk memahami bahwa pendidikan tidak berhenti pada seberapa banyak pengetahuan yang berhasil diperoleh. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana pengetahuan tersebut digunakan.
Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari pendekatan pendidikan holistis yang diterapkan UPH dalam mempersiapkan mahasiswa menghadapi kehidupan akademik, profesional dan sosial.
Dengan ilmu, integritas, iman serta pemahaman terhadap tujuan hidup, mahasiswa diharapkan mampu tumbuh menjadi generasi pemimpin yang memiliki kompetensi sekaligus kepedulian terhadap sesama.
UPH Festival 2026 pun menjadi salah satu tahap awal perjalanan mahasiswa baru untuk memahami bahwa talenta dan ilmu yang mereka miliki bukan hanya untuk membangun keberhasilan pribadi, tetapi juga dapat menjadi sarana membawa perubahan dan kebaikan di tengah masyarakat. (bbs/ion)






