PALEMBANG, viralsumsel.com – Duka mendalam masih menyelimuti hati Anwar Satibi. Di hadapan publik melalui podcast YouTube CURHAT BANG Denny Sumargo yang tayang Senin, 23 Februari 2026, ia membuka lembaran pahit kehidupan keluarganya. Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Anwar menceritakan kisah tragis putranya, Nizam Syafei (12), yang meninggal dunia dan diduga akibat dipaksa meminum air mendidih.
Di balik tragedi itu, nama TR—istri Anwar sekaligus ibu tiri Nizam—ikut menjadi sorotan. Namun kisah ini bukan sekadar perkara dugaan kekerasan, melainkan juga tentang dinamika keluarga, kecemburuan, prasangka, dan penyesalan seorang ayah.
Dua Anak Angkat dan Rumah yang Tak Lagi Hangat
Dalam perbincangan bersama Denny Sumargo, Anwar mengungkap bahwa TR memiliki dua anak angkat. Anak pertama adalah perempuan yang kini telah bekerja. Sementara anak angkat kedua, seorang laki-laki yang masih duduk di kelas 3 SMA, tinggal serumah bersama mereka.
Sejak awal, Anwar mengaku sering terjadi pertengkaran dalam rumah tangganya. Ia merasa ada perlakuan berbeda yang diterima Nizam dibanding anak angkat tersebut.
“Kalau ada apa pun dengan anaknya, itu yang dihantam anak saya,” ujar Anwar lirih.
Ucapan itu bukan sekadar keluhan, tetapi refleksi dari rasa bersalah yang kini menghantui dirinya. Ia mengakui pernah meluapkan amarah kepada Nizam, terutama setelah mengetahui sang putra diajari merokok oleh anak angkat tersebut.
“Saya pernah melakukan kekerasan terhadap anak saya. Karena batuk, ditanya, diajarin ngerokok sama si anak itu,” tuturnya dengan nada penyesalan.
Bagi seorang ayah, pengakuan itu bukan hal mudah. Ada luka yang belum sembuh, ada rasa bersalah yang tak bisa diputar kembali.
Kecurigaan yang Mengusik Nurani
Seiring waktu, prasangka Anwar terhadap hubungan TR dan anak angkatnya mulai tumbuh. Ia mengaku pernah memergoki keduanya berada di kamar dalam kondisi yang menurutnya tidak wajar.
“Saya pulang kerja, dia mijitin istri saya. Istri saya pakai daster, setengah bugil. Dia pakai kolor, nggak pakai baju,” ungkap Anwar.
Anwar menegaskan saat itu ia tidak melihat Nizam berada di ruangan tersebut. Ketika ditanya, anak angkat itu mengaku baru saja memijat “mamah”.
Awalnya Anwar mencoba menepis pikiran buruk. Ia ingin percaya bahwa semuanya masih dalam batas wajar. Namun kecurigaan kembali muncul ketika ia menemukan adanya film dewasa yang disimpan di ponsel anak angkat tersebut.
“Logikanya kalau dikirim teman, ya dihapus. Kenapa disimpan, dikoleksi?” katanya.
Meski begitu, Anwar menyadari bahwa kecurigaan tetaplah kecurigaan. Namun sebagai kepala keluarga, ia merasa ada banyak kejanggalan yang tak pernah benar-benar terjawab.
Upaya Memisahkan, Luka yang Tetap Tertinggal
Dalam upaya meredakan konflik, Anwar mengambil langkah tegas. Ia mengirim Nizam dan anak angkat tersebut ke pesantren yang berbeda. Harapannya sederhana: jarak bisa menjadi solusi.
Namun kenyataan tak semudah itu.
Suatu hari, Anwar pulang tanpa memberi kabar lebih dulu. Ia mendapati anak angkat tersebut berada di rumah. Begitu melihatnya, remaja itu disebut langsung melarikan diri.
“Kalau dia nggak punya salah, ngapain harus takut sama saya?” ucap Anwar, penuh tanda tanya.
Kini, keberadaan anak angkat itu disebut tidak diketahui Anwar. Ia mengaku ingin bertemu untuk meminta penjelasan langsung.
“Yang membuat kejanggalan, setiap ada masalah, anak saya dihantam, dia dibela,” tutupnya.
Sebuah Rumah yang Menyimpan Luka
Tragedi ini bukan hanya tentang dugaan kekerasan, tetapi juga tentang relasi keluarga yang rapuh. Tentang seorang anak yang kini telah tiada. Tentang seorang ayah yang dihantui rasa bersalah. Dan tentang seorang ibu tiri yang namanya kini berada dalam pusaran pertanyaan.
Di tengah sorotan publik, yang tersisa adalah duka dan tanda tanya. Kebenaran tentu menjadi ranah proses hukum. Namun bagi Anwar, yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa ia tak lagi memiliki kesempatan untuk memeluk putranya dan meminta maaf.
Di balik layar podcast dan perbincangan panjang itu, terselip satu pesan yang terasa kuat: keluarga seharusnya menjadi tempat paling aman bagi seorang anak. (bbs)






