Dihujat Usai Pamer #OpenToWork, Prilly Latuconsina Akhirnya Bongkar Alasan Sebenarnya

 

Foto Ig Prilly

viralsumsel.com, JAKARTA– Langkah Prilly Latuconsina membuka status #OpenToWork di LinkedIn justru berujung badai kritik. Alih-alih dipuji sebagai figur publik yang mau turun gunung, unggahan tersebut malah dianggap tidak sensitif terhadap realitas pahit pencari kerja yang sedang berjuang di tengah tekanan ekonomi.

Aktris berusia 29 tahun itu pun akhirnya angkat bicara. Prilly menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf setelah unggahannya memicu polemik luas dan mendatangkan puluhan ribu tawaran kerja hanya dalam waktu singkat.

“Aku minta maaf dengan tulus jika apa yang terjadi menimbulkan rasa tidak nyaman atau kesalahpahaman. Itu sama sekali bukan hal yang ingin aku ciptakan,” ujar Prilly melalui akun Instagram pribadinya, Rabu (4/2/2026).

Baca Juga :  Cerai Ketiga Kali, Andhara Early Akui Sudah Berusaha Bertahan

Prilly mengakui, respons publik jauh dari yang ia bayangkan. Status #OpenToWork yang ia gunakan bukan dimaksudkan untuk “pamer privilese” atau mengambil peluang orang lain, melainkan sebagai langkah personal untuk membuka ruang kolaborasi lintas industri.

Di tengah kariernya yang sudah mapan di dunia hiburan, Prilly justru mengaku ingin menantang diri dengan menjajal bidang-bidang baru di luar zona nyaman, sebuah proses belajar yang menurutnya tak selalu berjalan mulus.

“Aku tidak bermaksud mengambil kesempatan siapa pun. Ini bagian dari proses belajarku dan upayaku untuk terus bertumbuh,” tegasnya.

Namun publik terlanjur bereaksi keras. Banyak warganet menilai unggahan tersebut mencerminkan jarak sosial antara figur publik dan realitas masyarakat pencari kerja yang berjuang tanpa sorotan. Tekanan itu bahkan berdampak langsung pada akun LinkedIn Prilly yang sempat tidak bisa diakses akibat lonjakan aktivitas ekstrem.

Baca Juga :  Epy Kusnandar Tutup Usia 61 Tahun, Pemeran Muslihat Preman Pensiun Berpulang

Kini, Prilly menunggu pemulihan akunnya sembari mengambil pelajaran dari kontroversi yang terjadi. Ia mengaku peristiwa ini menjadi pengingat penting tentang sensitivitas sosial di ruang publik digital.

“Ke depan, yang terpenting bagiku adalah tetap bisa memberi dampak positif, baik untuk diri sendiri maupun orang lain,” ujarnya. (mel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *