JOMBANG, viralsumsel.com — Kisah tentang kiai dan nyai yang tumbuh di lingkungan pesantren selama ini banyak diwariskan melalui cerita dari mulut ke mulut. Namun, tradisi lisan tersebut memiliki keterbatasan karena sebuah cerita berpotensi berhenti pada ingatan orang-orang yang pernah mendengarnya.
Karena itu, kemampuan mendokumentasikan perjalanan hidup ulama melalui tulisan dinilai menjadi langkah penting agar nilai keteladanan mereka dapat diwariskan kepada generasi berikutnya secara lebih utuh.
Semangat tersebut menjadi salah satu latar belakang digelarnya Diklat Penulisan Biografi Ulama di Aula Bumi Damai Al-Muhibbin, Pondok Pesantren Darul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan tersebut diikuti sebanyak 40 santriwan dan santriwati. Para peserta mendapatkan pembekalan dari Direktur Utama NU Online Hamzah Sahal serta Mudir Keira Grup dan Maktabah Turmusy Mukhlis Yusuf Arbi.
Diklat ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan semata. Lebih jauh, forum tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong lahirnya generasi penulis dari lingkungan Tambakberas yang mampu merekam perjalanan hidup para kiai dan nyai secara lebih terstruktur.
Ketua Panitia, Miftachul Ulum, mengatakan Tambakberas masih membutuhkan gerakan yang lebih kuat dalam penulisan biografi ulama. Menurutnya, diperlukan contoh nyata agar tradisi penulisan biografi dapat berkembang dan melahirkan karya-karya yang bisa menjadi rujukan bagi generasi selanjutnya.
“Butuh gerakan baru, ada yang harus sukses di penulisan biografi. Minimal ada contoh dulu,” kata Miftachul.
Cerita Lisan Perlu Diubah Menjadi Dokumentasi
Miftachul menjelaskan, banyak kisah keteladanan para kiai dan nyai yang sebenarnya memiliki nilai penting untuk dipelajari. Namun, sebagian cerita tersebut masih bertahan melalui tradisi lisan sehingga keberlangsungannya sangat bergantung pada orang yang mengetahui dan menyampaikannya.
Kondisi tersebut membuat penulisan biografi memiliki posisi penting. Dengan dituangkan dalam bentuk tulisan, kisah perjuangan, kebiasaan, pemikiran hingga keteladanan seorang ulama dapat terdokumentasi dan dipelajari oleh masyarakat yang lebih luas.
“Kita butuh sekali untuk menuliskan kisah para bunyai dan kiai kita agar cerita itu tidak hanya tertutur secara lisan,” ujarnya.
Menurutnya, dokumentasi melalui tulisan juga dapat menjadi cara untuk menjaga ingatan kolektif pesantren. Pengalaman dan keteladanan tokoh tidak hanya menjadi cerita yang diwariskan kepada orang-orang terdekat, tetapi dapat dibaca kembali oleh generasi yang belum pernah bertemu langsung dengan tokoh tersebut.
Menulis Biografi Membutuhkan Pengetahuan dan Ketelitian
Direktur Utama NU Online, Hamzah Sahal, mengatakan menulis biografi ulama memiliki tantangan tersendiri. Seorang penulis tidak cukup hanya memiliki kemampuan merangkai kata, tetapi juga harus memahami tokoh yang menjadi objek tulisan.
Menurut Hamzah, proses penulisan pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari upaya mencari kebenaran. Dalam proses tersebut, seorang penulis bisa saja menemukan informasi yang ternyata keliru sehingga membutuhkan pemeriksaan dan verifikasi lebih lanjut.
“Dalam proses mencari kebenaran, belum tentu kita langsung menemukan kebenaran. Alih-alih, yang ditemukan kesalahan,” kata Hamzah.
Karena itu, ia menekankan pentingnya pengetahuan bagi seorang penulis. Penulis harus memiliki pemahaman terhadap topik yang ditulis sehingga informasi yang disampaikan kepada pembaca tidak sekadar menarik, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan.
“Syarat menulis hanya satu, yaitu ada ilmunya. Menulis itu syaratnya mengerti,” ujarnya.
Hamzah juga menekankan pentingnya kemampuan mengklasifikasikan informasi. Seorang penulis perlu memilah data, membedakan informasi yang relevan dan tidak relevan, serta memastikan keterangan yang diperoleh memiliki dasar yang jelas.
Selain penguasaan pengetahuan, kemampuan membaca dan menggali informasi juga menjadi modal penting. Penulis dituntut memiliki keberanian untuk menemui narasumber dan menggali cerita secara mendalam.
Dalam konteks penulisan biografi ulama, proses tersebut menjadi semakin penting karena kehidupan seorang tokoh tidak selalu tercermin dari informasi yang sudah beredar. Ada banyak detail yang baru dapat diketahui melalui wawancara dengan keluarga, santri, kolega, maupun orang-orang yang pernah berinteraksi langsung dengan tokoh.
Detail Kecil Bisa Menghidupkan Sosok Ulama
Pemateri lainnya, Mukhlis Yusuf Arbi, memberikan perspektif berbeda mengenai cara menggali cerita seorang tokoh. Menurutnya, penulis tidak harus selalu memulai biografi dari peristiwa besar yang pernah dialami tokoh.
Justru, kebiasaan sederhana dan detail kehidupan sehari-hari dapat menjadi bagian penting untuk membuat tulisan terasa lebih hidup.
“Menulis tokoh kita harus melihat kesehariannya yang kecil,” kata Arbi.
Detail kecil tersebut dapat membantu pembaca mengenal tokoh bukan hanya dari pencapaian atau jabatan yang pernah dimilikinya, tetapi juga dari sisi manusiawi. Cara berbicara, kebiasaan, rutinitas, interaksi dengan orang lain hingga sikap ketika menghadapi persoalan dapat menjadi bahan yang memperkaya sebuah biografi.
Arbi juga menekankan bahwa langkah pertama untuk menjadi penulis adalah mulai menulis. Menurutnya, seseorang tidak akan mengalami perkembangan apabila terus menunggu hingga merasa benar-benar siap.
Ia menyarankan calon penulis memilih gaya penulisan yang paling sesuai dengan karakter masing-masing. Arbi sendiri memilih pendekatan feature karena gaya tersebut memberikan ruang lebih luas untuk menggali detail, suasana dan sisi manusiawi dari tokoh yang ditulis.
Sebelum mulai menulis, seorang penulis juga perlu membuat rancangan tulisan. Rancangan tersebut dapat disusun berdasarkan hasil wawancara dan riset sehingga penulis memiliki gambaran mengenai arah cerita serta informasi yang perlu digali.
“Menjadi penulis yang baik adalah harus menjadi orang lain,” ujar Arbi.
Pernyataan tersebut menggambarkan pentingnya empati dalam penulisan biografi. Penulis perlu berusaha menempatkan dirinya pada posisi tokoh yang ditulis agar mampu memahami pengalaman, kebiasaan, pemikiran dan sudut pandangnya secara lebih mendalam.
Dengan demikian, biografi tidak sekadar menjadi kumpulan data mengenai perjalanan hidup seseorang. Tulisan diharapkan mampu menghadirkan sosok tokoh secara lebih utuh sekaligus menangkap nilai-nilai yang dapat dipelajari pembaca.
Diklat Penulisan Biografi Ulama di Tambakberas tersebut pun menjadi momentum untuk mendorong tradisi dokumentasi di lingkungan pesantren. Para santri tidak hanya diarahkan untuk mampu menulis, tetapi juga diajak memahami pentingnya menjaga jejak sejarah dan keteladanan para ulama.
Sebab, ketika cerita hanya bergantung pada ingatan dan penuturan, ada kemungkinan sebagian detail perlahan hilang seiring berjalannya waktu. Sebaliknya, ketika kisah tersebut ditulis dengan riset, ketelitian dan pendekatan yang tepat, keteladanan para ulama dapat terus dibaca dan dipelajari oleh generasi yang akan datang. (bbs/ion)






