LUBUKLINGGAU, VIRALSUMSEL.COM – Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Herman Deru mengingatkan kader Pemuda Muhammadiyah agar tidak tumbuh menjadi generasi yang tertutup terhadap kritik maupun terlena dengan masa lalu.
Menurut Herman Deru, pemuda memiliki peran penting dalam menentukan arah organisasi dan kehidupan masyarakat. Karena itu, kader muda harus terus belajar, memperbanyak pengalaman, mengikuti perkembangan zaman serta memiliki kemampuan untuk menghadirkan solusi atas berbagai persoalan.
Pesan tersebut disampaikan Herman Deru saat membuka Rapat Pimpinan Wilayah (Rapimwil) I Pemuda Muhammadiyah di Kota Lubuklinggau, Kamis (3/8/2028).
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Wakapolda Sumsel Brigjen Roni Santama, Wali Kota Lubuklinggau H. Rahmat Hidayat, Bupati Empat Lawang H. Joncik Muhammad serta jajaran Forkopimda Kota Lubuklinggau.
Herman Deru mengatakan, kehadirannya dalam Rapimwil tersebut merupakan bentuk komitmennya untuk memenuhi janji menghadiri agenda penting Pemuda Muhammadiyah.
Namun, ia berharap forum tersebut tidak berhenti sebatas agenda organisasi atau kegiatan formal. Rapimwil, menurutnya, harus menjadi ruang untuk menguji kemampuan kepemimpinan sekaligus menghasilkan gagasan dan rekomendasi yang benar-benar memberikan manfaat.
Pemimpin Harus Mampu Memberikan Solusi
Herman Deru menilai terdapat perbedaan antara seseorang yang hanya memiliki posisi sebagai ketua dengan sosok yang benar-benar mampu menjalankan fungsi kepemimpinan.
Menurutnya, menjadi pemimpin berarti harus siap menghadapi persoalan. Orang yang datang kepada seorang pemimpin umumnya membawa masalah yang membutuhkan penyelesaian.
Karena itu, seorang pemimpin tidak cukup hanya mampu mengatur organisasi. Ia juga harus mempunyai keberanian mengambil keputusan dan kemampuan mencari jalan keluar.
“Menjadi pemimpin bukan sekadar soal jabatan. Ketika orang datang membawa persoalan, seorang pemimpin harus mampu mencari solusi,” kata Herman Deru.
Ia kemudian mengajak seluruh peserta Rapimwil untuk terlebih dahulu menyadari bahwa setiap individu mempunyai nilai dan potensi masing-masing.
Kesadaran tersebut dinilai penting agar kader muda tidak merasa rendah diri dalam proses belajar maupun berorganisasi. Setiap orang yang bergabung dalam organisasi, menurutnya, harus memiliki keyakinan bahwa dirinya mampu memberikan kontribusi.
Herman Deru juga mendorong para kader agar tidak malu untuk belajar. Organisasi harus dijadikan sebagai tempat memperkaya pengetahuan, membangun pengalaman dan menempa karakter kepemimpinan.
Organisasi Harus Punya Tujuan yang Jelas
Menurut Herman Deru, sebuah organisasi harus mempunyai tujuan yang jelas. Keberadaan organisasi semestinya menjadi sarana bagi anggotanya untuk berkembang, bukan sekadar tempat berkumpul.
Bagi kaum muda, pengalaman berorganisasi dapat menjadi modal penting untuk memahami bagaimana mengambil keputusan, membangun komunikasi, menyelesaikan persoalan dan bekerja bersama orang lain.
Karena itu, ia meminta kader Pemuda Muhammadiyah memanfaatkan proses berorganisasi sebagai kesempatan belajar.
“Jadikan organisasi sebagai ruang untuk belajar dan membentuk diri. Jangan merasa sungkan untuk mencari ilmu dan pengalaman,” pesannya.
Herman Deru juga menyinggung karakter masyarakat Sumatera Selatan yang menurutnya memiliki budaya gengsi cukup kuat.
Namun, ia tidak melihat karakter tersebut harus serta-merta dihilangkan. Menurutnya, setiap karakter masyarakat dapat menjadi kekuatan apabila dikelola secara tepat.
Ia mencontohkan bagaimana sifat tersebut seharusnya diarahkan menjadi motivasi untuk meningkatkan kualitas diri dan mendorong seseorang meraih kemajuan.
“Karakter yang kita miliki tidak harus dibuang. Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengelolanya agar menjadi energi positif dan membawa kemajuan,” ujarnya.
Organisasi Jangan Hanya Datang Ketika Membutuhkan
Dalam arahannya, Herman Deru juga mengingatkan kader agar menjaga citra dan marwah organisasi.
Ia menyebut setiap organisasi memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) sebagai pedoman. Namun, kehidupan organisasi tidak hanya ditentukan oleh aturan tertulis.
Perilaku kader dan hubungan organisasi dengan masyarakat juga menjadi bagian penting dalam membangun citra.
Herman Deru menyoroti kebiasaan sebagian organisasi yang dinilai hanya muncul ketika membutuhkan bantuan atau kepentingan tertentu. Menurutnya, pola seperti itu harus dihindari.
Organisasi seharusnya hadir secara konsisten di tengah masyarakat dan memberikan kontribusi, bukan hanya datang ketika membutuhkan dukungan.
Bagi Herman Deru, seseorang yang memilih masuk ke dalam organisasi pada dasarnya sedang mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin. Karena itu, seluruh proses yang dilalui selama berorganisasi harus dimanfaatkan sebagai pengalaman berharga.
Pemuda Diminta Tidak Anti Kritik
Pesan paling tegas Herman Deru ditujukan kepada kader Pemuda Muhammadiyah agar tidak menjadi generasi yang anti kritik.
Menurutnya, keterbukaan terhadap kritik merupakan bagian penting dalam proses pembentukan karakter dan kepemimpinan. Kritik harus dipandang sebagai bahan evaluasi untuk mengetahui kekurangan sekaligus memperbaiki langkah.
Ia juga mengingatkan agar kader tidak terjebak dalam post power syndrome, yakni kondisi ketika seseorang sulit melepaskan pengaruh atau kejayaan masa lalu.
Pemuda justru harus mampu melihat ke depan dan terus memperbarui pengetahuan sesuai perubahan zaman.
“Jangan alergi terhadap kritik dan jangan terjebak pada kejayaan masa lalu. Pemuda Muhammadiyah harus terus belajar, mengikuti perkembangan dan mampu memberikan solusi,” tegas Herman Deru.
Generasi Tua dan Muda Harus Saling Menguatkan
Di sisi lain, Herman Deru juga menyoroti persoalan regenerasi dalam organisasi. Ia mengingatkan bahwa kalangan yang lebih tua juga perlu memberikan ruang kepada generasi muda untuk berkembang.
Menurutnya, tidak tepat jika pengalaman yang dimiliki generasi senior justru digunakan untuk meremehkan kemampuan kaum muda.
Sebaliknya, generasi muda perlu menghargai pengalaman generasi sebelumnya. Sebab, pengalaman dan jam terbang tetap menjadi bagian penting dalam membentuk kematangan seseorang.
Ia menilai regenerasi yang sehat bukan berarti memutus hubungan antara generasi lama dan generasi baru. Pengalaman senior dan gagasan segar dari kaum muda justru dapat dipadukan untuk memperkuat organisasi.
“Pengalaman tetap penting. Jam terbang menjadi bagian dari proses seseorang untuk matang dalam kepemimpinan,” ujarnya.
Melalui Rapimwil I Pemuda Muhammadiyah tersebut, Herman Deru berharap kader muda mampu menjadikan organisasi sebagai ruang pembelajaran sekaligus tempat melahirkan gagasan yang relevan dengan tantangan zaman.
Pemuda Muhammadiyah diharapkan tidak hanya aktif dalam kegiatan internal organisasi, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat serta ikut menjawab berbagai persoalan yang berkembang di Sumatera Selatan. (bbs/ion)












