PALEMBANG, viralsumsel.com — Momentum Idul Fitri identik dengan suasana hangat penuh kebersamaan. Momen ini menjadi waktu yang dinanti untuk berkumpul bersama keluarga, mempererat silaturahmi, serta saling bermaafan setelah menjalani ibadah di bulan Ramadan.
Namun, di balik kehangatan tersebut, terdapat kebiasaan yang kerap muncul dan berpotensi menimbulkan rasa tidak nyaman, yakni melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat pribadi.
Dalam tradisi berkumpul saat Lebaran, tidak sedikit orang yang tanpa sadar mengajukan pertanyaan sensitif kepada kerabat maupun teman. Padahal, niat yang awalnya sekadar basa-basi bisa saja menyinggung perasaan lawan bicara.
Beberapa pertanyaan yang sebaiknya dihindari antara lain terkait status pernikahan seperti “kapan menikah?”, kondisi keluarga seperti “mengapa belum memiliki anak?”, hingga urusan pekerjaan dan penghasilan. Selain itu, komentar yang berkaitan dengan kondisi fisik maupun pencapaian finansial juga dapat memicu ketidaknyamanan.
Pertanyaan semacam ini dinilai berisiko menimbulkan tekanan psikologis, terutama bagi mereka yang tengah menghadapi situasi pribadi tertentu. Oleh karena itu, menjaga etika dalam berkomunikasi menjadi hal penting agar suasana silaturahmi tetap terjaga dengan baik.
Sebagai alternatif, masyarakat dianjurkan untuk mengedepankan percakapan yang lebih ringan, positif, dan tidak mengandung unsur penilaian. Misalnya dengan menanyakan kabar, aktivitas sehari-hari, atau menyampaikan doa dan harapan baik.
Pendekatan komunikasi yang lebih santun dan empatik diyakini mampu menciptakan suasana Lebaran yang lebih nyaman dan menyenangkan bagi semua pihak. Dengan demikian, esensi Idulfitri sebagai momentum mempererat hubungan sosial dapat benar-benar terwujud tanpa adanya rasa canggung atau tekanan. (bbs)







