BEKASI, viralsumsel.com — Kekalahan telak 0-7 dari FC Bekasi City di Stadion Patriot Chandra Bhaga, Jumat (16/1/2026), resmi tercatat sebagai kekalahan terbesar Sriwijaya FC sepanjang musim kompetisi 2025/2026. Hasil ini sekaligus memperpanjang catatan kelam Laskar Wong Kito yang belum mampu keluar dari tren negatif.
Menariknya, kekalahan dengan kebobolan tujuh gol sebenarnya bukan yang pertama dialami Sriwijaya FC musim ini. Pada 11 November 2025, Sriwijaya FC juga sempat dibantai Garudayaksa FC dengan skor 7-2 di Stadion Pakansari.
Namun, saat itu Sriwijaya FC masih mampu memberikan perlawanan dengan mencetak dua gol hiburan. Berbeda dengan laga kontra FC Bekasi City, di mana Sriwijaya FC gagal mencetak satu gol pun.
Gol bunuh diri di menit ke-20 saat menghadapi FC Bekasi City menjadi simbol rapuhnya pertahanan Sriwijaya FC. Setelah itu, mental tim seolah runtuh, hingga akhirnya kebobolan enam gol tambahan tanpa balasan. Kondisi ini menegaskan lemahnya organisasi lini belakang serta buruknya transisi bertahan yang terus berulang sepanjang musim.
Jika ditarik ke belakang, performa Sriwijaya FC memang menunjukkan tren mengkhawatirkan. Sejak September 2025, tim kebanggaan Sumatera Selatan ini sudah berkali-kali menelan kekalahan, baik di kandang maupun tandang. Dari kekalahan 0-2 atas Garudayaksa FC di laga pembuka, hasil imbang dramatis 3-3 melawan Persikad, hingga kekalahan beruntun dari Persiraja Banda Aceh, PSMS Medan, dan PSPS Pekanbaru.
Bahkan saat bermain di Gelora Sriwijaya Jakabaring, Sriwijaya FC kerap gagal memanfaatkan keuntungan kandang. Kekalahan dari FC Bekasi City (1-3), Persikad (0-3), hingga Persiraja Banda Aceh (0-5) menjadi bukti bahwa kandang tidak lagi menjadi benteng yang menakutkan bagi lawan.
Secara statistik, Sriwijaya FC juga menjadi salah satu tim dengan jumlah kebobolan terbanyak musim ini. Kekalahan 5-0 dari Persiraja Banda Aceh dan 5-2 dari PSPS Pekanbaru memperlihatkan masalah yang konsisten, khususnya di lini pertahanan dan kedalaman skuad.
Kekalahan 0-7 dari FC Bekasi City pun menjadi alarm keras bagi manajemen dan tim pelatih. Evaluasi menyeluruh dinilai mutlak diperlukan, tidak hanya dari sisi taktikal, tetapi juga mental bertanding, komunikasi antarpemain, serta efektivitas rotasi pemain.
Dengan kompetisi yang masih menyisakan beberapa laga krusial, Sriwijaya FC dituntut segera bangkit. Jika tidak, musim ini berpotensi menjadi salah satu periode tergelap dalam sejarah panjang klub berjuluk Laskar Wong Kito tersebut. (bbs)






