PALEMBANG, VIRALSUMSEL.COM – Ratusan guru dan tenaga kependidikan di lingkungan Yayasan Islam Al-Fahd mengikuti pelatihan mengenai ekosistem digital, pengelolaan media sosial, serta strategi membangun komunikasi yang baik dengan media mainstream.
Kegiatan tersebut diikuti para pendidik dari berbagai satuan pendidikan yang berada di bawah naungan Yayasan Islam Al-Fahd. Peserta berasal dari jenjang SD, SMP, SMA hingga Pondok Pesantren Modern Muadalah.
Pelatihan menghadirkan Dr. Firdaus Komar, M.Si., wartawan senior, ahli pers Dewan Pers sekaligus Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sumatera Selatan, sebagai narasumber.
Dalam kegiatan tersebut, Firdaus Komar yang akrab disapa Firko memberikan pemahaman mengenai perubahan pola komunikasi di tengah perkembangan teknologi informasi. Materi tidak hanya berkaitan dengan cara menggunakan media sosial, tetapi juga menyentuh budaya organisasi, membangun kepercayaan publik, menjaga reputasi institusi serta memahami karakter kerja media di era digital.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh pemilik Yayasan Islam Al-Fahd, Abuya. Dalam sambutannya, ia berharap para guru, ustaz dan ustazah dapat mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan serius sehingga materi yang diperoleh dapat diterapkan dalam lingkungan pendidikan.
Menurutnya, pemahaman terhadap komunikasi publik dan media sosial menjadi kebutuhan penting bagi tenaga pendidik. Perkembangan teknologi membuat informasi mengenai aktivitas lembaga pendidikan dapat tersebar dengan cepat dan menjadi perhatian masyarakat dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut membuat setiap unsur di lembaga pendidikan perlu memahami bagaimana menyampaikan informasi secara tepat. Selain itu, sekolah maupun pesantren juga harus memiliki kesiapan menghadapi berbagai persoalan yang berpotensi berkembang menjadi isu publik.
Menjaga Reputasi dan Marwah Lembaga Pendidikan
Dalam pemaparannya, Firko menjelaskan bahwa reputasi sebuah lembaga pendidikan tidak semata-mata ditentukan oleh capaian akademik. Kepercayaan masyarakat juga terbentuk dari integritas guru dan tenaga kependidikan, perilaku peserta didik, budaya organisasi, kualitas pelayanan serta pola komunikasi lembaga kepada publik.
Ia mengingatkan, persoalan yang muncul di lingkungan sekolah harus ditangani secara hati-hati. Apalagi ketika sebuah persoalan telah berkembang di media sosial atau mendapatkan perhatian media massa.
Menurut Firko, menjaga marwah lembaga pendidikan berarti mempertahankan nilai, kehormatan, kepercayaan serta citra institusi di tengah siswa, orang tua, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya.
“Kepercayaan terhadap sekolah dibentuk oleh banyak hal. Bukan hanya prestasi siswa, tetapi juga keteladanan guru, budaya yang dibangun, pelayanan kepada masyarakat dan bagaimana lembaga menyampaikan informasi di ruang publik,” ujar Firko.
Ia kemudian memaparkan sejumlah hal yang perlu diperhatikan lembaga pendidikan untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Pertama, penguatan integritas dan keteladanan guru. Pendidik merupakan sosok yang menjadi panutan bagi peserta didik. Karena itu, perilaku, tutur kata, kedisiplinan hingga aktivitas di media sosial perlu mencerminkan sikap profesional.
Kedua, menciptakan budaya sekolah yang sehat dan positif. Nilai kesopanan, kedisiplinan, gotong royong serta sikap saling menghargai harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Lembaga juga perlu memiliki komitmen untuk mencegah perundungan, kekerasan, diskriminasi maupun tindakan penghinaan.
Ketiga, menjaga mutu pembelajaran. Kepercayaan publik akan tumbuh apabila lembaga pendidikan mampu memberikan proses pendidikan yang menghasilkan generasi berilmu, berkarakter, mandiri dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Keempat, menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Setiap program, kegiatan, pelayanan maupun capaian lembaga harus dapat dijelaskan dan dipertanggungjawabkan.
Kelima, membangun hubungan yang baik dengan orang tua dan masyarakat. Pendidikan membutuhkan kolaborasi sehingga sekolah tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan keluarga dan lingkungan.
Media Sosial Dapat Menjadi Kekuatan Sekolah
Selain membahas reputasi lembaga, Firko juga mengajak para guru melihat media sosial dari sudut pandang yang lebih positif.
Menurutnya, media sosial tidak semestinya hanya dianggap sebagai sumber risiko. Jika dikelola secara terencana dan profesional, platform digital dapat menjadi sarana komunikasi yang membantu sekolah memperkenalkan berbagai kegiatan sekaligus membangun kepercayaan masyarakat.
Ada sejumlah fungsi yang dapat dimaksimalkan lembaga pendidikan melalui media sosial. Pertama, sebagai kanal informasi untuk menyampaikan agenda, pengumuman, jadwal serta berbagai informasi penting sekolah.
Kedua, media sosial dapat menjadi ruang edukasi. Lembaga dapat menghadirkan konten pembelajaran, literasi digital, pendidikan karakter maupun informasi lain yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ketiga, media sosial dapat dimanfaatkan untuk memperkuat publikasi dan reputasi sekolah. Prestasi siswa dan guru, kegiatan sosial, olahraga, seni maupun berbagai inovasi pendidikan dapat diperkenalkan kepada masyarakat secara lebih luas.
Keempat, media sosial dapat menjadi sarana komunikasi antara lembaga pendidikan dengan siswa, orang tua, alumni dan masyarakat.
Kelima, kanal digital juga dapat digunakan untuk membangun budaya positif. Sekolah dapat mengajak peserta didik memanfaatkan ruang digital secara santun, kreatif dan bertanggung jawab.
“Media sosial perlu dikelola dengan tujuan komunikasi yang jelas. Jadi, jangan hanya digunakan untuk mengunggah foto kegiatan, tetapi harus menjadi bagian dari strategi lembaga dalam menyampaikan informasi dan membangun kepercayaan,” jelasnya.
Guru Diminta Bijak Sebelum Mengunggah Konten
Hal lain yang menjadi perhatian dalam pelatihan adalah etika dalam bermedia sosial. Firko mengingatkan para guru dan pengelola akun lembaga agar tidak terburu-buru mempublikasikan sebuah informasi.
Setiap konten, menurutnya, harus melalui pertimbangan yang matang. Informasi yang tidak diverifikasi atau unggahan yang mengabaikan privasi dapat menimbulkan persoalan baru dan berpotensi memengaruhi citra lembaga pendidikan.
Karena itu, setiap informasi yang akan dipublikasikan perlu memperhatikan lima prinsip utama, yaitu benar, bermanfaat, santun, aman dan bertanggung jawab.
Pengelola media sosial sekolah harus memastikan informasi yang disampaikan memiliki dasar yang benar. Konten juga sebaiknya memberikan manfaat, menggunakan bahasa yang santun, tidak membuka informasi pribadi peserta didik secara tidak semestinya serta mempertimbangkan dampaknya terhadap lembaga.
Dengan prinsip tersebut, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai tempat dokumentasi kegiatan, tetapi dapat berkembang menjadi aset komunikasi yang mendukung reputasi sekolah.
“Lima prinsip itu penting menjadi dasar sebelum sebuah konten dipublikasikan. Jika kebenaran, manfaat, kesantunan, keamanan dan tanggung jawab dijaga, media sosial dapat menjadi kekuatan bagi lembaga pendidikan,” tegas Firko.
Melalui pelatihan tersebut, para guru dan tenaga kependidikan Yayasan Islam Al-Fahd diharapkan tidak hanya memahami teori mengenai ekosistem digital, tetapi juga mampu menerapkannya dalam aktivitas sehari-hari.
Para pendidik diharapkan dapat menjalankan tugas secara profesional sekaligus menjadi komunikator yang mampu menyampaikan informasi secara tepat. Pemahaman terhadap karakter media, etika bermedia sosial dan pengelolaan komunikasi publik juga dinilai penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat.
Pada akhirnya, kemampuan beradaptasi dengan perkembangan digital menjadi bagian dari tantangan lembaga pendidikan. Di tengah derasnya arus informasi, guru dan tenaga kependidikan tidak hanya dituntut mampu mendidik di ruang kelas, tetapi juga memahami bagaimana menjaga komunikasi, reputasi dan marwah lembaga di ruang publik. (bbs/ion)






