
viralsumsel.com, JAKARTA – Di tengah meriahnya Indonesia International Motor Show (IIMS) 2026, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan peringatan keras soal posisi industri otomotif nasional. Menurutnya, dominasi Indonesia sebagai pasar otomotif terbesar di Asia Tenggara tidak bisa lagi dianggap aman.
Agus mengungkapkan, laporan dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penjualan mobil Malaysia kini semakin mendekati Indonesia. Ia bahkan menyebut ada kemungkinan capaian Malaysia telah menyamai atau melampaui penjualan otomotif Tanah Air.
“Saya mendengar laporan dari teman-teman Gaikindo bahwa penjualan otomotif di Malaysia itu mungkin sudah mendekati penjualan otomotif di Indonesia atau bahkan mungkin juga sudah melewati. Dan ini merupakan sebuah alarm bagi kita, bagi Indonesia. Alarm,” ujar Agus saat ditemui di arena IIMS 2026.
Pernyataan tersebut kontras dengan atmosfer optimistis pameran otomotif terbesar di Indonesia itu. Di saat produsen berlomba memamerkan model terbaru dan teknologi kendaraan masa depan, Agus justru menyoroti ancaman nyata dari negara tetangga.
Malaysia tercatat dua tahun berturut-turut mencatatkan penjualan mobil di atas 800 ribu unit. Pada 2025, Malaysia Automotive Association (MAA) membukukan penjualan sebesar 820.752 unit, tumbuh 0,5 persen secara tahunan. Angka ini nyaris sejajar dengan penjualan ritel mobil di Indonesia yang mencapai sekitar 833 ribu unit.
Selisih yang semakin tipis ini dinilai menjadi sinyal peringatan bagi industri otomotif nasional. Agus menilai, tantangan tersebut harus dijawab dengan strategi yang lebih terkoordinasi untuk menjaga daya saing Indonesia di kawasan.
Meski begitu, ia melihat peluang besar justru berasal dari pasar domestik. Rasio kepemilikan mobil di Indonesia masih berada di angka 99 unit per 1.000 penduduk, jauh di bawah sejumlah negara tetangga.
“Pemerintah ada porsinya, pelaku usaha ada porsinya, perbankan ada porsinya. Kalau kita sudah bisa sama-sama memiliki visi, saya kira tantangan seberat apapun itu bisa kita selesaikan dengan baik sehingga apa yang menjadi harapan kita terhadap industri otomotif itu bisa tercapai. Car ownership ratio juga masih begitu-begitu saja, 99 mobil out of 1.000 orang,” kata Agus.
Ia menegaskan, rendahnya rasio kepemilikan tersebut bukan sekadar ketertinggalan, melainkan peluang pertumbuhan yang besar jika dimaksimalkan dengan kebijakan dan dukungan pembiayaan yang tepat.
“Dan ini masih rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Tapi kalau kita bicara soal car-ownership ratio yang masih rendah itu saya sangat melihatnya sebagai hal yang potensinya sangat baik, sangat tinggi. Pertama, karena populasi kita besar, 99 out of 1.000 di Indonesia itu berbeda kalau 99 out of 1.000 di Singapura, 99 out of 1.000 di Malaysia karena penduduk kita besar,” lanjutnya.
Agus juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor atau burden sharing agar momentum ekonomi nasional bisa diterjemahkan menjadi peningkatan daya beli masyarakat, termasuk untuk belanja otomotif. (mel)






