Panel IDBW 2026 Dorong Perempuan Tak Sekadar Jadi Pengguna, tapi Turut Tentukan Arah Industri Kripto

JAKARTA, viralsumsel.com – Peran perempuan dalam perkembangan industri kripto dan Web3 di Indonesia dinilai perlu terus diperluas, bukan hanya sebagai pengguna maupun investor, tetapi juga sebagai pihak yang memiliki kewenangan dalam menentukan arah bisnis, produk, teknologi, hingga pengembangan komunitas.

Pesan tersebut mengemuka dalam Indonesia Blockchain Week (IDBW) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 12–13 Agustus 2026. Memasuki penyelenggaraan tahun keenam, IDBW mengangkat tema “Turning Infrastructure into Impact” dengan mempertemukan pelaku industri aset digital, perusahaan teknologi finansial, investor, korporasi, regulator, serta pemangku kepentingan dari Indonesia dan berbagai negara.

Konferensi tersebut membahas perkembangan teknologi blockchain yang kini mulai bergerak dari tahap eksperimen dan pembangunan infrastruktur menuju penerapan yang menghasilkan manfaat nyata. Sejumlah isu menjadi perhatian, mulai dari blockchain untuk sektor keuangan dan pembayaran, tokenisasi aset, identitas digital, kecerdasan buatan hingga pengembangan infrastruktur Web3.

Salah satu sesi yang mendapat perhatian adalah panel bertajuk “Building The Future, Her Way: Women Shaping Indonesia’s Crypto Industry” yang digelar pada 13 Agustus 2026.

Forum tersebut secara khusus membahas posisi perempuan dalam ekosistem kripto Indonesia. Pembahasan tidak berhenti pada tingkat partisipasi, melainkan diarahkan pada pertanyaan yang lebih mendasar, yakni seberapa besar perempuan mendapatkan akses, kepercayaan, serta kewenangan untuk mengambil keputusan strategis.

Partisipasi Perempuan Perlu Diikuti Akses Kepemimpinan

Indonesia menjadi salah satu negara dengan perkembangan adopsi aset kripto yang cukup kuat. Berdasarkan Global Crypto Adoption Index 2025 yang dirilis Chainalysis, Indonesia berada di peringkat ketujuh dunia dalam tingkat adopsi kripto akar rumput.

Sementara itu, Indonesia Crypto & Web3 Industry Report 2025 mencatat jumlah investor kripto di Indonesia telah mendekati 20 juta orang. Kondisi tersebut menunjukkan besarnya potensi pasar domestik sekaligus semakin luasnya keterlibatan masyarakat dalam ekosistem aset digital.

Baca Juga :  Alasan Meme Coin dan GameFi Menguasai Kripto

Partisipasi perempuan juga menjadi bagian dari perkembangan tersebut. Data Gemini 2022 Global State of Crypto Report mencatat perempuan mencapai 51 persen dari pemilik aset kripto di Indonesia.

Namun, besarnya jumlah partisipasi tersebut belum otomatis menunjukkan bahwa perempuan telah memperoleh porsi yang sama dalam pengambilan keputusan di industri.

Karena itu, panel IDBW 2026 menekankan perlunya perubahan perspektif. Kehadiran perempuan seharusnya tidak hanya dihitung berdasarkan jumlah pengguna atau investor, tetapi juga dari keterlibatan mereka dalam menentukan strategi perusahaan, merancang produk, memimpin organisasi dan membangun komunitas.

Diskusi tersebut dipandu Rieka Handayani, SVP Marketing BTSE Indonesia, dengan menghadirkan sejumlah tokoh perempuan dari industri blockchain dan teknologi, yakni Stephanie Kusnadi selaku CSO BTSE Indonesia, Rika Hariman sebagai CEO & Director CAMP Investment Technology, Theresa Tjandrawinata selaku Co-Founder & CEO yapp.com, Nadia Putri sebagai Product Manager D3 Labs, serta Angelina Vivian, Bank 3.0 Business Development Manager Nobu.

Para panelis membagikan pengalaman mereka ketika berada di ruang pengambilan keputusan. Pembahasannya mencakup keputusan bisnis, pengembangan produk, strategi membangun komunitas hingga berbagai tantangan yang dihadapi dalam perjalanan menuju posisi kepemimpinan.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa keberagaman tidak cukup hanya diwujudkan melalui keterwakilan. Yang tidak kalah penting adalah memberikan perempuan ruang untuk menyampaikan gagasan sekaligus kewenangan untuk mengambil keputusan.

Perempuan Perlu Mendapat Kepercayaan

Chief Strategy Officer BTSE Indonesia, Stephanie Kusnadi, mengatakan keterlibatan perempuan di industri kripto perlu dilihat secara lebih luas. Menurutnya, ukuran keberhasilan bukan semata-mata jumlah perempuan yang masuk ke industri, melainkan sejauh mana mereka dapat berkontribusi dalam menentukan arah perkembangannya.

Stephanie menilai semakin banyak perspektif yang hadir dalam ruang strategis, semakin besar pula peluang industri membangun produk dan layanan yang mampu menjangkau kebutuhan masyarakat secara lebih luas.

Baca Juga :  35 Tahun Eksis, Pasar Perjuangan Sekayu Bakal Revitalisasi

Menurutnya, keberadaan perempuan dalam posisi pengambil keputusan dapat memberikan perspektif tambahan dalam pengembangan bisnis, produk maupun komunitas. Hal itu sekaligus dapat mendorong terciptanya pertumbuhan industri yang lebih inklusif.

Dalam sesi tersebut, para pembicara juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap perempuan yang telah memperoleh tanggung jawab kepemimpinan. Kesempatan untuk berkembang perlu dibarengi dengan kepercayaan, ruang mengambil keputusan dan dukungan dalam menentukan prioritas.

Aspek keseimbangan kehidupan profesional dan personal juga dinilai menjadi bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang memungkinkan perempuan berkembang secara berkelanjutan.

Dari Partisipasi Menuju Pengaruh

Pesan utama yang muncul dalam panel IDBW 2026 adalah perlunya mengubah ukuran keberhasilan keterlibatan perempuan dalam industri kripto.

Perempuan tidak cukup hanya ditempatkan sebagai pengguna teknologi atau investor aset digital. Mereka juga perlu memiliki kesempatan untuk terlibat dalam proses perumusan strategi, pengembangan produk, pengambilan keputusan bisnis, serta pembangunan ekosistem.

Dengan semakin berkembangnya industri blockchain dan Web3 di Indonesia, ruang kepemimpinan perempuan menjadi bagian penting yang perlu diperkuat.

Stephanie menilai Indonesia sebenarnya telah menunjukkan tingkat partisipasi perempuan yang tinggi dalam industri aset digital. Tantangan berikutnya adalah memastikan partisipasi tersebut berkembang menjadi pengaruh yang nyata.

Dengan demikian, agenda keberagaman di industri kripto tidak berhenti pada persoalan jumlah, tetapi berlanjut pada pemberian akses, kepercayaan dan kewenangan yang setara.

IDBW 2026 pada akhirnya menempatkan isu kepemimpinan perempuan sebagai bagian dari pembicaraan yang lebih luas mengenai masa depan industri blockchain Indonesia. Ketika perempuan memiliki ruang yang lebih besar untuk mengambil keputusan, ekosistem teknologi digital diharapkan mampu tumbuh lebih beragam, inklusif dan berkelanjutan. (bbs/ion)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *