JAKARTA, viralsumsel.com — Presiden Prabowo Subianto menyoroti langkah pembenahan tata kelola pertambangan timah yang dilakukan PT Timah Tbk.
Penertiban aktivitas pertambangan ilegal di Bangka Belitung disebut menjadi salah satu bagian dari upaya pemerintah memperbaiki pengelolaan sumber daya alam sekaligus menjaga kekayaan negara.
Hal tersebut disampaikan Prabowo dalam pidato pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menyebut pemerintah telah menutup sekitar 1.000 lokasi tambang timah ilegal di Bangka Belitung. Ia juga meminta aparat penegak hukum, termasuk TNI dan Polri, menindak aktivitas pertambangan ilegal yang dinilai berpotensi merugikan negara.
Menurut Prabowo, penertiban tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan aktivitas pertambangan, tetapi merupakan bagian dari agenda besar pemerintah dalam memperbaiki tata kelola sumber daya alam nasional.
Laba PT Timah Melonjak
Presiden juga menyoroti perkembangan kinerja PT Timah setelah pembenahan tata kelola dilakukan. Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah peningkatan laba perusahaan pada semester pertama 2026.
Berdasarkan laporan keuangan semester I 2026, PT Timah membukukan laba bersih sebesar Rp2,71 triliun. Angka tersebut meningkat 804,6 persen dibandingkan laba bersih pada periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sekitar Rp300,07 miliar.
Capaian tersebut juga telah melampaui target laba bersih PT Timah untuk keseluruhan tahun 2026 yang sebelumnya ditetapkan sebesar Rp1,61 triliun.
Prabowo menyebut peningkatan laba tersebut sebagai salah satu gambaran perubahan kinerja perusahaan setelah dilakukan pembenahan.
Tidak hanya laba, pendapatan PT Timah juga mengalami pertumbuhan signifikan. Pada semester I 2026, pendapatan perusahaan mencapai Rp10,42 triliun, meningkat 146,9 persen dibandingkan Rp4,22 triliun pada semester I 2025.
Kinerja positif turut terlihat dari laba bruto yang meningkat menjadi sekitar Rp4,06 triliun dari sebelumnya Rp845,78 miliar. Sementara laba usaha mencapai sekitar Rp3,46 triliun, dibandingkan Rp380,2 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Produksi Timah Ikut Menguat
Perbaikan kinerja keuangan PT Timah berjalan beriringan dengan peningkatan produksi. Pada semester I 2026, produksi bijih timah perseroan mencapai 12.232 ton Sn, meningkat 75 persen dibandingkan 6.997 ton Sn pada semester I 2025.
Produksi logam timah juga tumbuh 58 persen menjadi 10.865 metrik ton Sn. Dari sisi penjualan, logam timah yang berhasil dipasarkan mencapai 10.984 metrik ton, atau meningkat sekitar 85 persen dibandingkan 5.933 metrik ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan tersebut didukung oleh optimalisasi produktivitas serta penambahan dan penguatan unit operasi pertambangan, baik di wilayah laut maupun darat.
PT Timah mengoptimalkan penggunaan Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP), serta aktivitas tambang darat melalui pola kemitraan.
Perseroan juga melakukan penguatan pada sisi eksplorasi, fasilitas pengolahan, serta pengawasan terhadap wilayah izin usaha pertambangan (IUP). Langkah tersebut diarahkan untuk memastikan kegiatan operasional berjalan lebih terukur dan sesuai dengan tata kelola pertambangan yang ditetapkan.
Harga Timah Global Beri Dukungan
Selain faktor internal perusahaan, kinerja PT Timah pada semester pertama 2026 juga mendapat dukungan dari kondisi harga timah di pasar global.
Harga rata-rata timah di London Metal Exchange (LME) sepanjang semester I 2026 tercatat mencapai sekitar 50.319,19 dolar AS per metrik ton. Angka tersebut meningkat 56,68 persen dibandingkan rata-rata harga pada semester I 2025 yang berada di level 32.115,77 dolar AS per metrik ton.
Kenaikan harga komoditas tersebut memberikan ruang positif terhadap kinerja perusahaan. Namun, peningkatan produksi dan penjualan juga menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan pendapatan dan laba perseroan.
Aset dan Ekuitas Perseroan Bertambah
Dari sisi neraca, total aset PT Timah hingga akhir Juni 2026 tercatat sebesar Rp16,45 triliun. Nilai tersebut meningkat dibandingkan posisi akhir 2025 yang berada di kisaran Rp13,64 triliun.
Ekuitas perseroan juga naik menjadi Rp10,55 triliun dari Rp8,41 triliun pada akhir tahun sebelumnya. Sementara total liabilitas tercatat sekitar Rp5,90 triliun.
Indikator profitabilitas perusahaan turut menunjukkan perkembangan. Margin laba bersih berada di kisaran 26 persen, sedangkan return on assets (ROA) mencapai 16,50 persen dan return on equity (ROE) berada pada level 25,74 persen untuk semester I 2026.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa perubahan tata kelola dan optimalisasi operasional mulai memberikan dampak terhadap kondisi perusahaan.
Pemerintah Lanjutkan Pembenahan BUMN
Perbaikan kinerja PT Timah juga menjadi bagian dari gambaran lebih luas mengenai agenda pemerintah dalam melakukan pembenahan perusahaan milik negara.
Prabowo menegaskan pemerintah akan melanjutkan proses pembenahan BUMN secara besar-besaran. Menurutnya, pengelolaan aset negara harus dilakukan dengan tata kelola yang lebih baik sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara dan masyarakat.
Presiden juga menyebut valuasi PT Timah pada Agustus 2026 meningkat sekitar 280 persen dibandingkan Agustus 2025. Angka tersebut digunakan sebagai salah satu indikator untuk menggambarkan perkembangan nilai perusahaan setelah dilakukan berbagai pembenahan.
Sebelumnya, kinerja PT Timah sepanjang 2025 juga menunjukkan tren positif. Perusahaan yang merupakan bagian dari Grup MIND ID tersebut mencatat pendapatan Rp11,55 triliun, naik 6,41 persen dibandingkan Rp10,86 triliun pada 2024.
Pada periode yang sama, laba bersih perseroan mencapai Rp1,31 triliun, meningkat 5,14 persen dari Rp1,25 triliun pada tahun sebelumnya. Realisasi laba tersebut juga mencapai sekitar 119 persen dari target RKAP 2025.
Bagi PT Timah, penguatan tata kelola menjadi bagian dari proses transformasi bisnis yang terus dilakukan. Strategi tersebut mencakup perbaikan tata kelola pertimahan, optimalisasi kegiatan operasional dan pemasaran, pengelolaan cadangan, penguatan pengawasan wilayah pertambangan, hingga peningkatan efisiensi keuangan.
Dengan demikian, penertiban aktivitas tambang ilegal dan pembenahan tata kelola tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kinerja perusahaan, tetapi juga memastikan pengelolaan sumber daya timah dilakukan secara lebih tertib, transparan, dan memberikan kontribusi optimal bagi negara. (bbs/ion)












