RABAT, VIRALSUMSEL.COM – Keberhasilan Timnas Maroko menciptakan sejarah pada Piala Dunia 2022 di Qatar masih menjadi inspirasi besar bagi sepak bola Afrika.
Kini, menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026, Singa Atlas kembali datang dengan kepercayaan diri tinggi dan ambisi untuk mengulangi bahkan melampaui pencapaian luar biasa tersebut.
Salah satu sosok yang menjadi simbol kebangkitan Maroko adalah penjaga gawang andalan mereka, Yassine Bounou. Kiper berusia 35 tahun itu kembali dipercaya menjadi benteng terakhir Singa Atlas dalam upaya mencetak sejarah baru di panggung sepak bola dunia.
Maroko akan memulai perjalanan mereka di Grup C dengan tantangan berat menghadapi Brasil pada laga pembuka yang berlangsung di New York New Jersey. Setelah itu, mereka dijadwalkan menghadapi Skotlandia dan Haiti dalam perebutan tiket menuju fase gugur.
Maroko Tak Ingin Terlena Status Favorit Baru
Meski kini menempati peringkat kedelapan dunia FIFA, jauh lebih baik dibanding posisi ke-22 saat berangkat ke Qatar empat tahun lalu, Bounou menegaskan timnya tetap bersikap realistis.
Menurut mantan kiper Sevilla tersebut, masih banyak negara yang lebih diunggulkan untuk meraih gelar juara dunia.
“Kita harus jujur. Ada tim-tim yang lebih difavoritkan dibanding kami. Namun sejak 2022, kami berada di jalur perkembangan yang positif dan ingin terus melanjutkannya,” ujar Bounou.
Meski demikian, ia mengakui bahwa kini Maroko mendapatkan rasa hormat yang lebih besar dari lawan-lawannya.
Perubahan tersebut menjadi bukti bahwa pencapaian bersejarah mereka di Qatar telah mengubah cara dunia memandang sepak bola Afrika.
“Sekarang kami merasakan adanya rasa hormat yang lebih besar dari tim-tim lain. Itu memberi kami kepercayaan diri yang mungkin sebelumnya tidak kami rasakan sebagai tim dari Afrika,” tambahnya.
Era Baru Bersama Mohamed Ouahbi
Piala Dunia 2026 juga menjadi awal babak baru bagi Maroko setelah pergantian pelatih.
Posisi pelatih kepala kini dipegang oleh Mohamed Ouahbi yang menggantikan Walid Regragui pada Maret lalu.
Meski terjadi pergantian di kursi pelatih, filosofi permainan dan identitas tim dipastikan tidak banyak berubah.
Kekuatan terbesar Maroko tetap terletak pada solidaritas, kebersamaan, serta organisasi permainan yang disiplin.
Kebersamaan Jadi Rahasia Kesuksesan
Kiper ketiga Maroko, Reda Tagnaouti, mengungkapkan bahwa suasana harmonis dalam skuad menjadi salah satu faktor utama keberhasilan mereka di Qatar 2022.
Menurutnya, sejak pertama kali tiba di Qatar, seluruh pemain merasakan energi positif yang berbeda dibanding turnamen lainnya.
“Kami adalah kelompok yang luar biasa. Tidak ada konflik atau gesekan selama turnamen berlangsung. Semua pemain fokus pada tujuan yang sama dan itulah yang membantu kami mencapai hasil besar,” ungkap Tagnaouti.
Hal serupa juga diamini oleh Bounou yang menyebut seluruh pemain memiliki tekad kuat untuk menorehkan sejarah bagi Maroko dan Afrika.
Tembok Kokoh Bernama Bounou
Kesuksesan Maroko dalam beberapa tahun terakhir tidak lepas dari penampilan impresif Bounou di bawah mistar gawang.
Pada Piala Dunia 2022, ia hanya kebobolan satu gol dalam lima pertandingan pertama sebelum akhirnya Maroko kalah dari Prancis di semifinal dan Kroasia pada perebutan tempat ketiga.
Performa apik tersebut terus berlanjut hingga kini.
Dalam 37 pertandingan terakhir bersama tim nasional, kiper yang kini memperkuat Al Hilal itu hanya kebobolan 14 gol atau rata-rata 0,37 gol per pertandingan.
Statistik tersebut menjadikannya salah satu penjaga gawang paling konsisten di level internasional.
Siap Menikmati Piala Dunia Ketiga
Memasuki usia 35 tahun, Bounou merasa pengalaman yang dimilikinya kini menjadi nilai tambah yang sangat penting.
Ia mengaku lebih matang secara mental dibandingkan beberapa tahun lalu dan ingin menikmati setiap momen di Piala Dunia 2026 tanpa penyesalan.
“Saya merasa lebih siap secara mental berkat pengalaman yang saya miliki. Tujuan saya adalah menikmati kompetisi ini, memberikan segalanya, dan tidak meninggalkan penyesalan apa pun,” katanya.
Target Besar Maroko di Amerika Utara
Meski tidak ingin terbebani ekspektasi, optimisme tetap menyelimuti skuad Singa Atlas.
Bounou bahkan yakin Maroko akan kembali memberikan dampak besar bagi sepak bola dunia seperti yang mereka lakukan di Qatar.
“Saya yakin Maroko akan kembali meninggalkan jejak di sepak bola dunia pada Piala Dunia 2026. Saya percaya rakyat Maroko akan bangga dengan tim ini. Semoga kami bisa melakukan sesuatu yang sangat besar sekali lagi,” tegasnya.
Dengan perpaduan pengalaman, kedisiplinan, dan semangat kebersamaan yang kuat, Maroko berpeluang kembali menjadi salah satu kuda hitam paling berbahaya di Piala Dunia 2026. (bbs)






