PALEMBANG, viralsumsel.com – Piala Dunia FIFA 2026 menjadi edisi bersejarah bagi sepak bola Asia. Untuk pertama kalinya, sembilan negara anggota Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) tampil di putaran final. Namun, harapan besar yang mengiringi keikutsertaan tersebut belum mampu berbuah prestasi membanggakan.
Dari sembilan wakil Asia, hanya Australia dan Jepang yang berhasil melangkah ke Babak 32 Besar. Sementara tujuh negara lainnya harus mengakhiri perjalanan lebih cepat setelah gagal melewati fase grup atau kalah dalam persaingan memperebutkan tiket sebagai tim peringkat ketiga terbaik.
Evaluasi FIFA menunjukkan bahwa mayoritas tim Asia kini dihadapkan pada tantangan besar untuk melakukan regenerasi, memperbaiki efektivitas permainan, sekaligus mempersiapkan diri menghadapi Piala Asia AFC 2027 dan siklus Piala Dunia berikutnya.
Australia Tampil Solid, Tetapi Masih Tumpul di Lini Depan
Australia kembali menunjukkan konsistensinya dengan lolos dari fase grup untuk dua edisi Piala Dunia secara beruntun. Pertahanan Socceroos menjadi salah satu yang paling disiplin dengan hanya kebobolan tiga gol dalam empat pertandingan.
Selain itu, kemunculan sejumlah pemain muda seperti Patrick Beach, Lucas Herrington, Paul Okon-Engstler, hingga Nestory Irankunda memberikan optimisme bagi masa depan tim.
Meski demikian, persoalan penyelesaian akhir masih menjadi pekerjaan rumah utama. Australia hanya mampu mencetak dua gol sepanjang turnamen dari permainan terbuka. Pelatih Tony Popovic kini dituntut menemukan solusi di lini depan menjelang Piala Asia 2027.
Iran Gagal Tipis, Regenerasi Mulai Disiapkan
Iran nyaris melangkah ke fase gugur setelah tampil tanpa kekalahan di babak grup. Mereka bermain imbang melawan Selandia Baru, Belgia, dan Mesir, tetapi gagal lolos karena kalah selisih dalam klasemen tim peringkat ketiga terbaik.
Federasi Sepak Bola Iran memastikan Amir Ghalenoei tetap dipercaya menangani Team Melli hingga Piala Asia mendatang. Fokus utama pelatih berusia 61 tahun tersebut adalah mempercepat regenerasi skuad agar Iran tetap kompetitif dalam jangka panjang.
Irak Bawa Harapan Baru Setelah Kembali ke Piala Dunia
Setelah absen selama empat dekade, Irak akhirnya kembali tampil di Piala Dunia. Meski gagal lolos dari fase grup, performa mereka dinilai cukup menjanjikan karena mampu bersaing di grup yang dihuni Norwegia, Prancis, dan Senegal.
Pelatih Graham Arnold masih berpeluang melanjutkan pekerjaannya bersama Irak. Dengan mayoritas pemain inti masih berada pada usia produktif, Lions of Mesopotamia diyakini memiliki fondasi kuat untuk berkembang dalam beberapa tahun ke depan.
Jepang Masih Kesulitan Menembus Babak Gugur
Jepang kembali menjadi salah satu wakil Asia terbaik. Samurai Biru mampu melaju ke Babak 32 Besar setelah mencatat kemenangan impresif, termasuk kemenangan terbesar mereka sepanjang sejarah Piala Dunia atas Tunisia.
Namun, langkah Jepang kembali terhenti setelah kalah tipis dari Brasil meski sempat unggul lebih dahulu. Kekalahan tersebut membuat Jepang kembali gagal melewati laga pertama fase gugur untuk tiga edisi Piala Dunia secara beruntun.
Pelatih Hajime Moriyasu dikabarkan tetap memimpin tim hingga Piala Asia 2027 sebelum estafet kepelatihan diberikan kepada Go Oiwa. Pemain seperti Takehiro Tomiyasu, Takefusa Kubo, dan Ayase Ueda masih akan menjadi tulang punggung, didukung gelombang talenta muda yang terus bermunculan.
Yordania Catat Sejarah Meski Gagal Lolos
Debut Yordania di Piala Dunia berakhir tanpa kemenangan. Namun, Nashama tetap meninggalkan catatan bersejarah melalui gol pertama mereka di ajang tersebut yang dicetak Ali Olwan saat menghadapi Austria.
Usai turnamen, federasi menunjuk Badou Zaki sebagai pelatih baru menggantikan Jamal Sellami. Mantan kapten Maroko itu diharapkan mampu membawa Yordania kembali bersaing pada Piala Asia.
Korea Selatan Bersiap Memulai Era Baru
Korea Selatan membuka turnamen dengan kemenangan dramatis atas Republik Ceko. Namun dua kekalahan berikutnya membuat Taegeuk Warriors tersingkir di fase grup.
Pelatih Hong Myungbo memutuskan mundur setelah kegagalan tersebut. Di sisi lain, regenerasi mulai menjadi fokus utama mengingat Son Heung-min telah memasuki usia 34 tahun. Lee Kang-in diprediksi akan menjadi salah satu pemimpin generasi baru sepak bola Korea Selatan.
Qatar Ingin Bangkit di Piala Asia
Sebagai juara bertahan Asia, Qatar kembali gagal melewati fase grup. Meski demikian, mereka berhasil meraih poin pertama sepanjang sejarah keikutsertaan di Piala Dunia setelah bermain imbang melawan Swiss.
Pelatih Julen Lopetegui masih dipercaya memimpin tim. Target berikutnya adalah mempertahankan gelar Piala Asia untuk ketiga kalinya secara beruntun.
Arab Saudi Kehilangan Ketajaman
Arab Saudi tampil cukup disiplin sepanjang turnamen. Namun, minimnya produktivitas menjadi penyebab utama kegagalan Green Falcons melangkah lebih jauh.
Tim asuhan Georgios Donis hanya mencetak satu gol selama fase grup. Ke depan, regenerasi menjadi fokus utama dengan sejumlah pemain muda, termasuk Musab Al Juwayr, diproyeksikan menjadi pilar baru tim nasional.
Uzbekistan Petik Pengalaman Berharga
Sebagai debutan, Uzbekistan memang belum mampu meraih kemenangan. Meski begitu, mereka berhasil mencatat sejarah melalui gol pertama negaranya di Piala Dunia yang dicetak Abbosbek Fayzullaev.
Selain itu, Eldor Shomurodov juga mendapat sorotan setelah gol spektakulernya masuk nominasi Hyundai Goal of the Tournament. Pelatih Fabio Cannavaro diyakini akan memanfaatkan pengalaman tersebut sebagai modal membangun tim yang lebih kompetitif menuju Piala Dunia 2030.
Secara keseluruhan, Piala Dunia FIFA 2026 menjadi pelajaran penting bagi negara-negara Asia. Meski belum mampu bersaing secara maksimal dengan kekuatan sepak bola dunia, munculnya banyak pemain muda berkualitas memberikan harapan bahwa wakil-wakil AFC dapat tampil lebih kompetitif pada Piala Asia 2027 maupun Piala Dunia edisi berikutnya. (bbs)






