Amir Al Ammari: Irak Akan Tunjukkan Semangat Pantang Menyerah di Piala Dunia 2026

VIRALSUMSEL.COM – Penantian panjang selama empat dekade akhirnya berakhir bagi Timnas Irak. Setelah melewati perjalanan kualifikasi yang penuh tantangan, Singa Mesopotamia memastikan diri tampil di Piala Dunia FIFA 2026 dan siap menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah tim yang tidak pernah menyerah dalam menghadapi kesulitan.

Gelandang andalan Irak, Amir Al Ammari, menjadi salah satu sosok yang merasakan langsung perjuangan panjang tersebut. Pemain berusia 28 tahun yang saat ini memperkuat klub Polandia, Cracovia, mengaku pencapaian lolos ke Piala Dunia merupakan mimpi yang menjadi kenyataan dalam perjalanan kariernya sebagai pesepak bola profesional.

Irak menjadi salah satu negara yang menjalani jalur kualifikasi terpanjang menuju Piala Dunia 2026. Selama lebih dari dua tahun, tim asuhan pelatih Irak harus melewati 21 pertandingan yang penuh dinamika sebelum akhirnya mengamankan tiket ke putaran final yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Menurut Al Ammari, perjalanan berat tersebut justru menjadi gambaran karakter sesungguhnya tim nasional Irak.

“Kami selalu menemukan cara untuk bangkit kembali. Itulah karakter yang dimiliki tim ini,” ungkap Al Ammari dalam wawancara resmi bersama FIFA.

Mimpi Masa Kecil yang Menjadi Kenyataan

Bagi Al Ammari, tampil di panggung sepak bola terbesar dunia bukan sekadar pencapaian biasa. Ia mengaku telah memimpikan momen tersebut sejak masih kecil.

Saat menyaksikan pertandingan Piala Dunia melalui layar televisi, dirinya selalu membayangkan suatu hari bisa menjadi bagian dari ajang prestisius tersebut.

Kini, impian itu menjadi kenyataan.

“Bermain di Piala Dunia berarti segalanya bagi saya. Saya telah bekerja keras selama bertahun-tahun untuk mencapai titik ini. Ketika masih kecil, saya hanya bisa bermimpi melihat Piala Dunia di televisi. Sekarang saya akan menjadi bagian dari turnamen itu,” katanya.

Baca Juga :  Gol Spektakuler James Rodriguez yang Mengguncang Maracana, Momen Ikonik Piala Dunia 2014 yang Tak Terlupakan

Meski telah memastikan tempat di turnamen terbesar dunia, Al Ammari mengaku masih sulit mempercayai kenyataan tersebut.

Ia menyebut perasaannya bercampur antara bangga, bahagia, dan tidak sabar menanti momen ketika akhirnya menginjak lapangan Piala Dunia.

Perjalanan Kualifikasi Membentuk Mental Baja

Al Ammari menjelaskan bahwa perjalanan panjang selama kualifikasi telah mempererat hubungan antar pemain dan seluruh elemen tim.

Irak sempat tampil impresif pada fase awal dengan catatan tak terkalahkan. Namun perjalanan mereka juga diwarnai sejumlah hasil negatif yang sempat membuat peluang lolos terlihat sulit.

Salah satu momen yang paling berat adalah ketika Irak menelan kekalahan penting dari Palestina.

Meski demikian, dukungan masyarakat Irak yang tidak pernah surut menjadi energi tambahan bagi tim untuk kembali bangkit.

“Kami mengalami banyak pasang surut. Tetapi setiap pertandingan membuat kami semakin kuat. Bersama staf pelatih dan seluruh pemain, tujuan kami hanya satu, yaitu lolos ke Piala Dunia,” ujarnya.

Menurutnya, kebersamaan yang terbangun selama proses tersebut membuat skuad Irak kini lebih dari sekadar sebuah tim sepak bola.

“Kami seperti keluarga besar. Kami berjuang bersama sebagai saudara,” tambahnya.

Membawa Harapan Jutaan Rakyat Irak

Sebagai pemain tim nasional, Al Ammari menyadari besarnya tanggung jawab yang dipikul ketika mengenakan seragam Irak.

Ia mengatakan setiap pertandingan selalu menghadirkan tekanan tersendiri karena para pemain tidak hanya bermain untuk diri sendiri, melainkan membawa harapan jutaan rakyat Irak, baik yang berada di dalam negeri maupun yang tinggal di berbagai negara.

Namun bagi Al Ammari, melihat kebahagiaan rakyat Irak setelah tim meraih kemenangan justru menjadi motivasi terbesar.

“Kami bermain untuk seluruh rakyat Irak. Melihat mereka bahagia setelah kami menang adalah sesuatu yang sangat berarti bagi saya,” katanya.

Tantang Mbappe dan Bintang Dunia Lainnya

Di Piala Dunia 2026, Irak tergabung di Grup I bersama Prancis, Senegal, dan Norwegia.

Baca Juga :  Mbappé Perkasa di Puncak Top Skor LaLiga, Torres dan Julián Álvarez Tempel Ketat

Irak akan memulai perjalanan mereka menghadapi Norwegia di Boston pada 16 Juni, kemudian melawan finalis Piala Dunia 2022, Prancis, di Philadelphia pada 22 Juni, sebelum menghadapi Senegal di Toronto pada 26 Juni.

Keberadaan para pemain kelas dunia seperti Kylian Mbappe tidak membuat Al Ammari gentar.

Sebaliknya, ia justru menjadikan kesempatan tersebut sebagai motivasi untuk tampil lebih baik.

“Ketika menghadapi pemain terbaik dunia, semua pemain biasanya meningkatkan level permainannya. Yang terpenting adalah menikmati momen tersebut dan tetap percaya diri,” ujarnya.

Menurut Al Ammari, sepak bola tetaplah permainan yang dimainkan oleh dua tim dengan jumlah pemain yang sama.

“Pada akhirnya mereka juga manusia. Di lapangan tetap 11 lawan 11,” tegasnya.

Irak Ingin Tunjukkan Mentalitas Pantang Menyerah

Lebih dari sekadar mengejar hasil, Al Ammari menegaskan bahwa Irak ingin menunjukkan kepada dunia tentang karakter bangsa mereka yang selalu mampu bangkit dalam berbagai situasi.

Ia menilai perjalanan sejarah yang dialami Irak telah membentuk mentalitas kuat yang kini juga tercermin dalam permainan tim nasional.

“Kami ingin menunjukkan kepada dunia bagaimana Irak selalu mampu bangkit kembali, baik di dalam maupun di luar lapangan,” katanya.

Dengan format baru yang memungkinkan lebih banyak tim lolos ke fase gugur, Al Ammari meyakini Irak memiliki peluang untuk menciptakan kejutan di Piala Dunia 2026.

Meski demikian, ia meminta timnya tetap fokus menjalani pertandingan satu demi satu tanpa terbebani ekspektasi berlebihan.

“Kami harus melangkah pertandingan demi pertandingan. Yang terpenting adalah bangga bisa berada di panggung ini dan memberikan yang terbaik untuk negara,” tutup Al Ammari. (bbs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *