PALEMBANG, viralsumsel.com — Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya respons cepat dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera. Setiap titik api yang terdeteksi diminta segera ditangani agar tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Arahan tersebut disampaikan Prabowo saat memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla wilayah Sumatera di Palembang, Sumatera Selatan, Senin. Dalam rapat itu, Presiden memastikan pemantauan terhadap titik panas (hotspot) maupun titik api (fire spot) terus dilakukan secara intensif.
Pemantauan tidak hanya mengandalkan petugas di lapangan, tetapi juga diperkuat dengan pengawasan dari udara menggunakan pesawat serta teknologi pesawat nirawak atau drone.
Prabowo menekankan, kecepatan menjadi faktor penting dalam mencegah meluasnya karhutla. Menurutnya, setiap titik api yang teridentifikasi harus segera direspons dengan mengirimkan tim ke lokasi.
“Begitu kita tahu, segera kirim tim untuk diredam. Jangan sampai meluas jadi hektare,” tegas Prabowo dalam rapat tersebut.
Karhutla Sumsel Disebut Terkendali
Dalam rapat koordinasi tersebut, Presiden menerima laporan mengenai perkembangan penanganan karhutla di Sumatera Selatan. Kondisi karhutla di wilayah tersebut disebut masih berada dalam keadaan terkendali.
Namun, masih terdapat lahan yang membutuhkan penanganan pemadaman dengan luas sekitar 199 hektare.
Presiden mengapresiasi langkah pemerintah daerah, TNI, Polri, BNPB, BPBD, serta seluruh unsur terkait yang telah melakukan penanganan sejak beberapa bulan terakhir.
Meski kondisi kebakaran dinilai terkendali, Prabowo turut menyoroti persoalan kabut asap yang masih dirasakan, termasuk di wilayah Palembang.
Menurutnya, persoalan asap tetap membutuhkan perhatian agar tidak menimbulkan dampak lanjutan terhadap masyarakat.
“Kalau begitu, saya kira Sumatera Selatan berarti dalam keadaan terkendali. Hanya memang masalah asap,” ujar Prabowo.
Prabowo Dorong “Ubi Bombing”
Selain membahas percepatan pemadaman, rapat tersebut juga menjadi momentum bagi Presiden Prabowo untuk mendorong pengembangan inovasi baru dalam penanganan karhutla.
Salah satu gagasan yang mendapat perhatian adalah penggunaan bahan pemadam berbasis tepung ubi atau singkong sebagai alternatif dalam membantu memadamkan api.
Prabowo menyebut inovasi tersebut secara berseloroh sebagai “ubi bombing”, sebagai alternatif dari metode water bombing yang selama ini digunakan untuk menjatuhkan air dari udara ke lokasi kebakaran.
Presiden menilai inovasi berbahan dasar ubi atau singkong tersebut menarik untuk dikembangkan. Karena itu, ia meminta dilakukan penelitian, pengujian efektivitas, hingga produksi dalam skala lebih besar.
“Menarik sekali. Bahan bakunya dari ubi, dari singkong. Coba diproduksi dalam skala besar,” kata Prabowo.
Ia juga meminta kebutuhan anggaran untuk pengembangan bahan tersebut segera diajukan. Pemerintah, kata dia, perlu mendukung proses riset sekaligus pengujian agar diketahui sejauh mana bahan tersebut efektif digunakan dalam penanganan karhutla.
“Berarti yang kita bukan water bombing, ubi bombing. Ubi bombing,” ujar Prabowo.
Dorongan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mencari berbagai alternatif teknologi untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan, khususnya ketika kondisi lapangan menyulitkan penggunaan metode pemadaman konvensional.
Penanganan Karhutla Juga Dibahas dengan Jambi dan Lampung
Selain membahas kondisi Sumatera Selatan, Presiden Prabowo dalam rapat tersebut juga melakukan koordinasi secara daring dengan jajaran pemerintah daerah di Provinsi Jambi dan Lampung.
Koordinasi dilakukan untuk mengetahui perkembangan penanganan karhutla di masing-masing wilayah sekaligus memastikan langkah antisipasi dan pemadaman berjalan secara terpadu.
Sebelumnya, pada Senin pagi, Presiden Prabowo tiba di Pekanbaru, Riau. Dari wilayah tersebut, Kepala Negara memimpin rapat koordinasi serupa untuk membahas penanganan karhutla di Provinsi Riau.
Rangkaian koordinasi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah pusat memberikan perhatian khusus terhadap ancaman karhutla di sejumlah wilayah Sumatera. Kecepatan mendeteksi titik api, pengerahan personel, penguatan teknologi pemantauan, hingga pengembangan metode pemadaman menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran meluas dan menekan dampak kabut asap terhadap masyarakat. (bbs/ion)











