SOLO, viralsumsel.com – Minggu sore, 8 Februari 2026, Stadion Sriwedari Solo bergemuruh. Ketegangan merambat dari tribun hingga ke bangku cadangan. Di tepi lapangan, seorang pria berdiri dengan sorot mata tajam namun tenang. Dialah Kas Hartadi.
Beberapa menit kemudian, RANS Nusantara FC memastikan diri sebagai juara Liga 3 (Liga Nusantara) musim 2025/2026 usai menaklukkan Dejan FC lewat drama adu penalti 4-3, setelah bermain imbang 2-2 hingga babak perpanjangan waktu.
Tangannya mengepal, wajahnya tak meledak dalam euforia berlebihan. Ia hanya tersenyum—senyum seorang pelatih yang tahu betul bahwa perjuangan panjang akhirnya terbayar.
Gelar itu bukan sekadar trofi. Itu adalah tiket promosi ke Liga 2 (Championship) musim 2026/2027. Dan sekali lagi, nama Kas Hartadi berada di balik kisah sukses tersebut.
“Kashardiola”, Julukan yang Lahir dari Filosofi
Di kalangan pecinta sepak bola nasional, ia kerap dijuluki “Kashardiola”—sebuah plesetan yang menyandingkannya dengan Pep Guardiola.
Julukan itu bukan tanpa alasan. Kas dikenal sebagai pelatih yang menyukai permainan kolektif, disiplin posisi, dan pendekatan taktik yang detail.
Formasi favoritnya, 4-3-3 defending, mencerminkan filosofi keseimbangan antara bertahan dan menyerang. Ia bukan tipe pelatih yang gemar sensasi. Baginya, sepak bola adalah proses—bukan sekadar hasil akhir.
Namun sebelum menjadi arsitek tim-tim promosi, Kas Hartadi adalah seorang “kijang” di lapangan hijau.
Dari Ragunan ke Panggung Emas SEA Games
Lahir di Surakarta pada 6 Desember 1970, Kas mengasah bakatnya di Diklat Ragunan—kawah candradimuka atlet nasional. Kelincahannya membuat ia dijuluki “kijang” saat aktif bermain.
Karier profesionalnya dimulai ketika direkrut Kramayuda Tiga Berlian (KTB) Palembang pada usia 19 tahun.
Bersama KTB yang bermarkas di Stadion Aneka, Plaju, ia turut mengantar klub tersebut menjuarai Liga Utama (Galatama).
Puncak karier bermainnya datang saat memperkuat Timnas Indonesia yang meraih medali emas sepak bola SEA Games 1991 di Filipina. Sebuah generasi emas yang hingga kini masih dikenang.
Awal Mula di Bangku Kepelatihan
Selepas gantung sepatu, Kas tak meninggalkan dunia yang membesarkannya. Ia memulai karier kepelatihan di SYSA Muba dan langsung mencatatkan prestasi sebagai runner-up Piala Soeratin U-17 tahun 2008.
Kariernya menanjak cepat. Ia dipercaya menangani Sriwijaya FC U-21 pada 2009, lalu menjadi asisten Ivan Venkov Kolev di tim senior musim 2009/2010. Momentum emas datang pada musim 2011/2012 ketika ia ditunjuk sebagai pelatih kepala Sriwijaya FC menggantikan Ivan Kolev.
Hasilnya fenomenal.
Sriwijaya FC langsung menjuarai Indonesia Super League (ISL) 2011/2012. Saat itu, skuad berjuluk “Los Galacticos” dihuni bintang-bintang seperti Keith “Kayamba” Gumbs, Firman Utina, Ponaryo Astaman, Hilton Moreira, Lim Jun Sik, Thierry Gathuessi, Achmad Jufriyanto, M Ridwan, Supardi Nasir, hingga Ferry Rotinsulu.
Kas Hartadi menjelma sebagai pelatih muda dengan reputasi besar.
Spesialis Promosi
Selepas era emas Sriwijaya FC, perjalanan Kas Hartadi membawanya melatih berbagai klub: Persikabo, Cilegon United, Persik Kediri, Kalteng Putra, PSIM Yogyakarta, PSKC Cimahi, hingga Dewa United.
Ia dikenal sebagai pelatih yang piawai membangun tim dari fondasi. Bersama Kalteng Putra (2018) dan Dewa United (2021), ia sukses membawa klub promosi ke Liga 1.
Rata-rata masa kepelatihannya memang sekitar satu tahun, tetapi dalam periode singkat itu ia kerap meninggalkan jejak prestasi.
Lisensi Pro AFC yang dikantonginya bukan sekadar formalitas. Ia dikenal detail dalam analisis pertandingan dan pembinaan mental pemain.
Dan kini, bersama RANS Nusantara FC, ia kembali membuktikan diri. Empat pertandingan awalnya bersama RANS di musim 2025/2026 bahkan mencatatkan rata-rata poin sempurna.
Pelatih yang Percaya Proses
Di balik ketegasan taktiknya, Kas Hartadi dikenal sebagai sosok yang dekat dengan pemain. Ia bukan tipe pelatih yang banyak bicara di media, tetapi ruang ganti adalah wilayah di mana ia membangun karakter.
Baginya, sepak bola adalah tentang kerja keras, kesabaran, dan kekompakan.
Dari seorang “kijang” yang berlari lincah di lapangan, kini ia menjadi arsitek yang menyusun langkah dari pinggir garis. Dari Solo ke Palembang, dari Liga 1 hingga Liga 3, dari juara ISL hingga promosi RANS Nusantara.
Kas Hartadi mungkin tak selalu berada di sorotan utama. Namun setiap kali klub membutuhkan kebangkitan, namanya kerap hadir sebagai jawaban.
Dan seperti yang ia buktikan di Sriwedari, perjalanan “Kashardiola” tampaknya masih jauh dari kata selesai. (bbs)








