Palembang, viralsumsel.com – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) kembali mencatatkan tonggak penting dalam pembangunan daerah.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Dr. H. Herman Deru dan Wakil Gubernur H. Cik Ujang (HDCU), angka kemiskinan Sumsel resmi turun ke satu digit untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel, tingkat kemiskinan Sumsel pada September 2025 tercatat 9,85 persen, turun dari 10,15 persen pada 2024. Capaian ini menjadi rekor tersendiri, mengingat sejak 2014 angka kemiskinan Sumsel selalu berada di atas 10 persen.
Data tersebut dipaparkan Kepala BPS Sumsel Moh. Wahyu Yulianto dalam Rapat Koordinasi Sinergi Program Pengentasan Kemiskinan se-Provinsi Sumsel Tahun 2026 yang digelar di Griya Agung Palembang, Kamis (5/2/2026).
Gubernur Herman Deru menilai capaian ini sebagai bukti nyata bahwa arah kebijakan pembangunan Sumsel berada di jalur yang benar. Tidak hanya berhasil menekan kemiskinan, Sumsel juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,35 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,11 persen.
“Sumsel tumbuh secara inklusif. Kita tidak hanya bergantung pada satu sektor, tetapi ditopang oleh pertambangan, pertanian, industri pengolahan hingga real estat. Ini menunjukkan pembangunan yang merata,” ujar Herman Deru didampingi Wakil Gubernur Cik Ujang.
Ia menjelaskan, kontribusi Sumsel terhadap perekonomian Pulau Sumatera menjadi yang ketiga terbesar, setelah Sumatera Utara dan Kepulauan Riau. Namun berbeda dengan daerah lain yang bergantung pada sektor tertentu, Sumsel memiliki struktur ekonomi yang lebih berimbang.
Penurunan angka kemiskinan, lanjut Herman Deru, merupakan hasil kerja kolektif seluruh pemerintah kabupaten dan kota. Bahkan, angka pengangguran terbuka juga berhasil ditekan hingga 3,59 persen.
Data BPS menunjukkan sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan kontribusi mencapai 44 persen. Potensi ini, menurut Herman Deru, akan terus diperkuat melalui hilirisasi, peningkatan produktivitas, dan penguatan perdagangan, termasuk lewat program unggulan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP).
“Hari ini menjadi momen yang sangat membahagiakan. Sejak lama saya bercita-cita melihat Sumsel keluar dari jerat kemiskinan dua digit. Alhamdulillah, kini itu terwujud,” ungkapnya.
Ia mengenang, pada 2015 angka kemiskinan Sumsel sempat menyentuh 14,25 persen, kemudian turun menjadi 12,80 persen pada 2018, dan terus mengalami penurunan hingga mencapai 9,85 persen pada 2025.
Meski demikian, Herman Deru menegaskan seluruh jajaran pemerintah tidak boleh terlena. Ia mengingatkan pentingnya menjaga akurasi data melalui Sensus Ekonomi 2026 sebagai dasar perumusan kebijakan yang tepat sasaran.
Sementara itu, Kepala BPS Sumsel Moh. Wahyu Yulianto memaparkan, jumlah penduduk miskin di Sumsel pada September 2025 tercatat 898,24 ribu orang, turun 21,4 ribu orang dibandingkan Maret 2025. Penurunan terjadi baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan.
Perekonomian Sumsel tahun 2025 juga mencatat PDRB sebesar Rp720,21 triliun dengan PDRB per kapita Rp80,66 juta. Pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor akomodasi dan makan minum, sementara dari sisi pengeluaran ditopang konsumsi rumah tangga.
Sebagai penutup kegiatan, seluruh bupati dan wali kota se-Sumsel menandatangani komitmen bersama untuk menyukseskan Sensus Ekonomi 2026, sebagai fondasi keberlanjutan pembangunan daerah. (win)







