VIRALSUMSEL.COM – Inggris memang berhasil mengamankan satu tempat di semifinal Piala Dunia FIFA 2026. Namun, keberhasilan tersebut ternyata belum membuat pelatih Thomas Tuchel merasa puas.
Meski Three Lions sukses menyingkirkan Norwegia dengan skor 2-1 melalui perjuangan dramatis di Miami Stadium, Tuchel justru menilai penampilan anak asuhnya masih jauh dari standar yang diharapkan.
Menurut pelatih asal Jerman tersebut, Inggris memang menunjukkan karakter kuat dengan mampu bangkit dari ketertinggalan. Akan tetapi, banyak aspek permainan yang dinilai masih perlu diperbaiki sebelum menghadapi tantangan yang lebih berat di semifinal melawan Argentina.
Kemenangan atas Norwegia sekaligus memastikan Inggris melangkah ke empat besar Piala Dunia 2026. Pada pertandingan itu, dua gol Jude Bellingham menjadi penentu keberhasilan Three Lions membalikkan keadaan.
Meski demikian, Tuchel memilih tidak larut dalam euforia.
Tuchel Soroti Banyak Kekurangan
Dalam komentarnya seusai pertandingan, Tuchel menegaskan hasil memang sangat membanggakan, tetapi kualitas permainan timnya belum memuaskan.
Ia menilai Inggris terlalu banyak melakukan kesalahan teknis, kurang cepat dalam membangun serangan, serta tidak konsisten sepanjang pertandingan.
Menurutnya, tim juga terlalu sering mempersulit diri sendiri sehingga kemenangan yang diraih lebih disebabkan oleh semangat juang daripada kualitas permainan secara keseluruhan.
Pelatih berusia 52 tahun itu mengakui mental bertanding para pemain patut diapresiasi. Namun, jika ingin melangkah ke final, Inggris harus mampu meningkatkan performa secara signifikan.
Pesan Tegas Jelang Duel Lawan Argentina
Ini bukan kali pertama Tuchel melontarkan kritik kepada timnya sepanjang turnamen.
Usai kemenangan dramatis atas Meksiko pada babak 16 besar, ia juga sempat menyebut masih terdapat jarak cukup besar antara performa Inggris saat ini dengan level permainan terbaik yang diinginkannya.
Bagi Tuchel, keberhasilan lolos ke semifinal bukan alasan untuk cepat merasa puas.
Sebaliknya, ia ingin seluruh pemain tetap lapar akan kemenangan dan terus meningkatkan kualitas permainan di setiap pertandingan.
Pendekatan seperti inilah yang selama ini menjadi ciri khas kepelatihannya di berbagai klub besar Eropa.
Jude Bellingham Jadi Contoh Pendekatan Tuchel
Salah satu pemain yang merasakan langsung metode kepelatihan Tuchel adalah Jude Bellingham.
Meski kini menjadi bintang utama Inggris dengan koleksi enam gol di Piala Dunia 2026, Bellingham ternyata sempat mendapat tantangan besar sebelum turnamen dimulai.
Tuchel tidak langsung memberikan jaminan posisi utama kepada gelandang Real Madrid tersebut.
Ia bahkan membuka persaingan dengan Morgan Rogers untuk mengisi posisi gelandang serang.
Pelatih Inggris itu menegaskan tidak ada pemain yang mendapat tempat hanya karena nama besar atau reputasi.
Bellingham juga diminta lebih mampu mengontrol emosi ketika berada di lapangan.
Kepercayaan yang akhirnya diberikan Tuchel dibalas dengan performa luar biasa.
Bellingham kini menjadi salah satu pemain paling menentukan dalam perjalanan Inggris menuju semifinal.
Filosofi yang Pernah Berhasil di Chelsea
Pendekatan keras Tuchel sebenarnya bukan hal baru.
Saat masih menangani Chelsea, mantan pelatih Borussia Dortmund, Paris Saint-Germain, dan Bayern Munchen itu dikenal tidak segan mengkritik pemainnya secara terbuka apabila performanya dianggap belum maksimal.
Salah satu contohnya terjadi pada Callum Hudson-Odoi.
Saat itu, Hudson-Odoi baru dimainkan sebagai pemain pengganti, tetapi kembali ditarik keluar hanya sekitar setengah jam kemudian karena Tuchel menilai intensitas permainannya tidak memenuhi standar tim.
Meski demikian, kritik tersebut bukan berarti menghilangkan kepercayaan.
Beberapa hari kemudian Hudson-Odoi kembali dipercaya menjadi starter dalam laga Liga Champions.
Pendekatan serupa juga pernah diterapkan kepada Kai Havertz.
Tuchel terus memberikan tantangan agar pemain asal Jerman tersebut mampu mengeluarkan seluruh potensinya.
Hasilnya, Havertz tampil sebagai pahlawan kemenangan Chelsea pada final Liga Champions UEFA 2021 saat menaklukkan Manchester City.
Inggris Dituntut Naik Level
Kini pola kepemimpinan yang sama kembali diterapkan Tuchel bersama Timnas Inggris.
Meski telah mencapai semifinal, ia ingin para pemain tampil lebih efektif, disiplin, dan konsisten ketika menghadapi Argentina.
Laga nanti diprediksi menjadi ujian terberat Inggris di Piala Dunia 2026.
Argentina datang dengan status juara bertahan sekaligus diperkuat Lionel Messi yang masih tampil impresif.
Dengan pengalaman meraih 11 trofi bergengsi bersama Borussia Dortmund, Paris Saint-Germain, Chelsea, dan Bayern Munchen, Tuchel optimistis pendekatan tegas yang diterapkannya mampu memacu para pemain tampil lebih baik.
Kini seluruh perhatian tertuju pada duel klasik Inggris kontra Argentina. Apakah kritik terbuka Tuchel mampu memunculkan respons positif dari skuad Three Lions dan membawa mereka melangkah ke partai final Piala Dunia 2026? Jawabannya akan ditentukan di lapangan. (bbs)






