Palembang, viralsumsel.com – Kekalahan yang dialami Sriwijaya FC hingga berujung degradasi dari Liga 2 memunculkan beragam reaksi di media sosial.
Salah satu narasi yang ramai diperbincangkan datang dari akun Instagram @sasanafootball, yang menuliskan judul provokatif seolah-olah Sumsel United menjadi “tim yang mengusir” Sriwijaya FC dari Liga 2.
Narasi tersebut dinilai tidak berdasar dan cenderung menyederhanakan persoalan. Secara matematis dan klasemen akhir, Sriwijaya FC tetap berada di posisi yang membuat mereka terdegradasi ke Liga 3, terlepas dari hasil pertandingan melawan Sumsel United.
Dengan menempati peringkat ke-10 dan selisih poin yang cukup jauh dari pesaing lainnya, kondisi tersebut merupakan akumulasi dari serangkaian hasil buruk sepanjang musim kompetisi.
Artinya, hasil pertandingan melawan klub mana pun tidak akan mengubah nasib Laskar Wong Kito. Degradasi bukan ditentukan oleh satu laga semata, melainkan konsistensi performa selama satu musim penuh.
Dari sisi teknis, kualitas permainan Sriwijaya FC memang mengalami penurunan signifikan. Minimnya pemain bintang dan kurangnya kedalaman skuad berdampak langsung terhadap pola permainan di lapangan.
Performa yang inkonsisten menjadi gambaran nyata lemahnya daya saing tim dalam menghadapi ketatnya kompetisi Liga 2.
Di luar faktor teknis, persoalan manajerial dan finansial juga disebut menjadi beban berat bagi tim. Isu keterlambatan gaji pemain hingga empat bulan yang beredar di media turut memperlihatkan adanya persoalan serius dalam pengelolaan klub. Dalam situasi seperti itu, sulit mengharapkan pemain tampil maksimal tanpa kepastian hak dan fasilitas yang memadai.
Beban utang yang dikabarkan mencapai miliaran rupiah semakin memperlemah fondasi klub, baik secara finansial maupun prestasi. Kondisi tersebut tentu berdampak pada stabilitas tim secara keseluruhan.
Kekalahan dari Sumsel United sendiri berlangsung dalam koridor sportivitas. Menjadikan klub lain sebagai kambing hitam atas degradasi justru berpotensi memperkeruh suasana dan mengalihkan fokus dari akar persoalan yang sebenarnya.
Evaluasi menyeluruh terhadap manajemen Sriwijaya FC menjadi kebutuhan mendesak. Reformasi tata kelola, transparansi keuangan, serta pembenahan struktur kepemilikan saham dinilai penting untuk mengembalikan kejayaan klub kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan ini. Terlebih, isu dominasi kepemilikan saham oleh pihak di luar Sumsel turut memicu diskusi di kalangan suporter.
Momentum degradasi ini seharusnya menjadi titik balik untuk berbenah, bukan justru memperluas polemik. Tanpa perubahan fundamental di level manajemen, bukan tidak mungkin persoalan serupa akan kembali terulang di masa mendatang. (ton)









