Status Tanggap Darurat Banjir dan Longsor Sumut Berakhir, Pemulihan Dimulai

Foto arsip istimewa

viralsumsel.com, JAKARTA – Hujan telah reda, namun luka yang ditinggalkan banjir bandang dan longsor di Sumatera Utara masih terasa di banyak sudut desa. Memasuki awal 2026, status tanggap darurat resmi berakhir, tetapi bagi ribuan warga terdampak, perjuangan untuk bangkit baru saja dimulai.

Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menetapkan masa transisi dari tanggap darurat menuju pemulihan pascabencana setelah status darurat berakhir pada 31 Desember 2025. Fokus penanganan kini diarahkan pada pembukaan akses wilayah, penyediaan hunian sementara, serta perbaikan infrastruktur dasar yang rusak diterjang banjir dan longsor.

Wakil Gubernur Sumatera Utara Surya mengatakan pemerintah tetap mendampingi masyarakat meski fase darurat telah berakhir. Ia berharap masa transisi ini dapat menjadi jembatan bagi warga untuk kembali menata kehidupan mereka.

“Penanganan bencana tidak berhenti. Tanggap darurat selesai pada 31 Desember 2025, dan sekarang kita memasuki masa transisi pemulihan. Kita doakan proses ini berjalan cepat agar masyarakat bisa kembali hidup normal,” ujar Surya.

Baca Juga :  11.000 Hektare Sawah di Sumatera Rata Tersapu Banjir, Pemerintah Janji Bangkitkan Kembali

Bencana yang terjadi pada 24-26 November 2025 itu menyisakan duka mendalam. Rumah-rumah luluh lantak, lahan pertanian tertimbun lumpur, dan keluarga tercerai-berai. Status tanggap darurat sempat diberlakukan sejak 27 November dan diperpanjang dua kali hingga akhir Desember karena dampak yang meluas serta kondisi korban yang belum sepenuhnya pulih.

Data Pusdalops PB BPBD Sumut per 1 Januari 2026 mencatat, 366 orang meninggal dunia dan 60 lainnya masih dinyatakan hilang. Lebih dari 1,8 juta jiwa terdampak di 19 kabupaten/kota, sementara 14.430 orang harus bertahan di pengungsian, meninggalkan rumah dan harta benda yang tak sedikit telah musnah.

Di Tapanuli Tengah, wilayah dengan korban terbanyak, duka terasa nyaris di setiap kampung. Sebanyak 127 warga meninggal dunia dan 37 orang belum ditemukan. Hal serupa terjadi di Tapanuli Selatan, yang mencatat 89 korban meninggal dan 20 orang hilang.

Baca Juga :  Viral Pernyataan "Cukup Saya WNI, Anak Jangan", LPDP Kini Periksa Suami Penerima Beasiswa

Di daerah lain seperti Sibolga, Tapanuli Utara, dan Humbang Hasundutan, warga masih berupaya bangkit sembari menunggu kepastian atas anggota keluarga yang hilang.

Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengatakan pendataan korban masih berlangsung. Tantangan utama adalah wilayah yang sempat terisolasi akibat akses jalan terputus dan material longsor yang belum sepenuhnya dibersihkan.

“Tim di lapangan masih melakukan verifikasi data, terutama di daerah yang sulit dijangkau. Kami ingin memastikan setiap korban tercatat dan mendapatkan penanganan yang layak,” ujarnya. (mel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *