LAIS, VIRALSUMSEL.COM – Upaya penanganan kebakaran hutan, kebun dan lahan (karhutbunlah) di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) terus dilakukan pemerintah daerah bersama unsur TNI-Polri dan masyarakat. Hingga saat ini, sebanyak 242 lokasi karhutbunlah terdeteksi tersebar di 14 kecamatan dengan total luasan mencapai sekitar 228 hektare.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Muba. Bahkan, Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Dr H Herman Deru turun langsung meninjau sejumlah lokasi karhutbunlah bersama Bupati Muba H M Toha Tohet SH, Jumat (4/9/2026).
Salah satu lokasi yang menjadi sasaran peninjauan berada di Desa Tanjung Agung Timur, Kecamatan Lais. Kunjungan tersebut dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi di lapangan sekaligus mengevaluasi langkah penanganan kebakaran yang selama ini telah dilakukan.
Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut Dandim 0401 Muba Letkol Inf Dimas Kurniawan, Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Muba H Ardiansyah SE MM PhD CMA, Kalaksa BPBD Muba Marko Susanto SSTP MSi, Plt Kadishub Muba M Hatta SE MM, Camat Lais Heru Kharisma SIP MSi, Forkopimcam Lais, para kepala desa, pemangku kepentingan serta masyarakat peduli api.
242 Lokasi Tersebar di 14 Kecamatan
Kalaksa BPBD Muba Marko Susanto menjelaskan, dari 242 lokasi yang terdeteksi, sebanyak 75 lokasi telah berhasil ditanggulangi. Sementara itu, sejumlah titik lainnya masih menjadi perhatian untuk dilakukan penanganan sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Dari sebaran tersebut, Kecamatan Bayung Lencir tercatat sebagai wilayah dengan jumlah lokasi karhutbunlah terbanyak, yakni 44 lokasi. Berikutnya Kecamatan Lais dengan 43 lokasi, Sekayu sebanyak 42 lokasi dan Sungai Keruh sebanyak 31 lokasi.
Menurut Marko, Pemkab Muba telah melakukan berbagai langkah pencegahan maupun penanganan. Upaya tersebut dilaksanakan berdasarkan arahan Bupati Muba dengan melibatkan berbagai unsur terkait.
Pencegahan bahkan dilakukan sebelum memasuki periode rawan kebakaran. Pemerintah bersama TNI dan Polri secara aktif memberikan edukasi kepada masyarakat di berbagai kecamatan agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Selain sosialisasi, patroli terpadu juga terus dilakukan. Ketika ditemukan kebakaran, tim pemadam di lapangan bersama personel TNI dan Polri bergerak untuk melakukan penanganan agar api tidak semakin meluas.
Bupati Toha Apresiasi Kunjungan Gubernur
Bupati Muba H M Toha Tohet menyampaikan apresiasi atas perhatian Gubernur Sumsel yang bersedia turun langsung melihat kondisi karhutbunlah di wilayah Kabupaten Muba.
Menurut Toha, kunjungan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi bentuk perhatian pemerintah provinsi, tetapi juga dapat memperkuat semangat seluruh pihak yang berada di lapangan dalam menangani kebakaran.
Toha berharap hasil peninjauan bersama tersebut dapat melahirkan langkah yang semakin efektif sehingga jumlah titik api di Muba dapat ditekan.
“Kami berterima kasih kepada Pak Gubernur yang sudah datang langsung ke Muba. Mudah-mudahan setelah melihat kondisi di lapangan, penanganan karhutbunlah semakin efektif dan titik api terus berkurang hingga tidak muncul lagi,” kata Toha.
Ia juga mengingatkan bahwa penyebab kebakaran di Muba tidak dapat seluruhnya dikaitkan dengan aktivitas pembukaan lahan.
Berdasarkan temuan di sejumlah lokasi, terdapat indikasi penyebab lain, di antaranya puntung rokok maupun faktor alam. Karena itu, menurut Toha, penanganan karhutbunlah harus dilakukan berdasarkan kondisi faktual serta penyebab kebakaran yang ditemukan di masing-masing lokasi.
Herman Deru Soroti Kondisi Gambut
Sementara itu, Gubernur Sumsel Herman Deru menyampaikan bahwa hasil patroli udara perlu dibaca secara cermat. Menurutnya, keberadaan hotspot tidak selalu berarti masih terdapat api yang menyala di lokasi tersebut.
Dalam kondisi tertentu, api sudah berhasil dipadamkan, namun asap masih tertahan. Situasi seperti ini terutama dapat terjadi di wilayah yang memiliki karakteristik lahan gambut.
Karena itu, penanganan tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman di permukaan. Ketersediaan air yang memadai menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan titik-titik kebakaran benar-benar dapat dikendalikan.
Deru juga meminta agar pemerintah melakukan inventarisasi terhadap riwayat hotspot selama tiga tahun terakhir. Data tersebut dinilai penting untuk mengetahui desa-desa yang memiliki pola kejadian karhutla berulang.
Dari pemetaan tersebut, ia mengusulkan adanya skema penghargaan bagi desa yang mampu menjaga wilayahnya dari karhutla. Sebaliknya, wilayah yang berulang kali mengalami kejadian serupa perlu mendapatkan perhatian dan evaluasi lebih serius.
Dalam skema tersebut, kepala desa, camat, TNI dan Polri diharapkan memiliki peran bersama dalam mencegah terjadinya kebakaran.
Cetak Sawah Dinilai Bisa Tekan Risiko Karhutla
Selain memperkuat upaya pemadaman dan pencegahan, Herman Deru juga menyoroti pentingnya pengelolaan lahan yang selama ini terbengkalai.
Menurutnya, banyak kejadian karhutla berlangsung di lahan yang tidak dikelola. Karena itu, program cetak sawah dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengubah lahan terbengkalai menjadi lahan produktif.
Dengan pengelolaan tersebut, lahan diharapkan tidak lagi menjadi kawasan yang mudah terbakar. Di sisi lain, pemanfaatan lahan untuk kegiatan pertanian juga dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Sebagian besar kejadian karhutla berada di lahan yang belum dikelola. Kalau melalui program cetak sawah lahan tersebut bisa dimanfaatkan, risikonya dapat ditekan sekaligus membuka peluang agar aktivitas ekonomi masyarakat ikut berkembang,” ujar Herman Deru.
Penanganan karhutbunlah di Muba dengan demikian tidak hanya membutuhkan respons cepat ketika kebakaran terjadi, tetapi juga strategi pencegahan jangka panjang. Sinergi pemerintah daerah, TNI-Polri, masyarakat, serta pengelolaan lahan menjadi bagian penting dalam menekan potensi kebakaran di wilayah rawan.
Dengan pemantauan yang lebih terukur, penguatan patroli, edukasi masyarakat dan pemanfaatan lahan secara produktif, pemerintah berharap kejadian karhutbunlah di Muba dapat terus ditekan dan tidak berkembang menjadi bencana yang lebih luas. (bbs/ion)












