DPR Sentil Negara Usai Tragedi Bocah SD Gantung Diri di NTT: Anak Tak Boleh Dibebani Kemiskinan

Foto ist

 

viralsumsel.com, JAKARTA – Tragedi meninggalnya seorang siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengguncang nurani publik. Peristiwa memilukan ini dinilai sebagai tamparan keras bagi negara, sekaligus pengingat kemiskinan masih menjadi beban nyata bagi anak-anak Indonesia.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menegaskan kasus tersebut tidak boleh dipandang sebagai insiden biasa. Menurutnya, bila benar tekanan ekonomi menjadi pemicu, maka negara harus melakukan introspeksi mendalam.

“Ini bukan sekadar peristiwa tragis, tapi alarm keras. Jika seorang anak SD sampai memendam beban ekonomi, bahkan hanya untuk membeli buku tulis, itu menunjukkan ada yang gagal dalam sistem perlindungan anak kita,” ujar Lalu Hadrian, Rabu (4/2/2026).

Baca Juga :  Polemik Dana Hibah Rp  2 Triliun, Ini Sikap Gerakan Pemuda Sumsel

Ia menilai, kemiskinan tak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan fisik, tetapi juga menghantam kondisi mental anak-anak, terutama mereka yang berada di wilayah dengan keterbatasan akses dan perhatian negara.

Lalu menekankan pentingnya kehadiran negara di lingkungan sekolah. Ia meminta agar jaring pengaman sosial diperkuat, sehingga tak ada lagi anak yang merasa sendirian menghadapi kesulitan hidup.

“Negara harus memastikan sekolah menjadi ruang aman, bukan sumber tekanan. Anak-anak tidak boleh merasa bersalah atau terbebani karena kondisi ekonomi keluarganya,” tegasnya.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan peran keluarga dan lingkungan terdekat agar lebih peka terhadap perubahan sikap anak. Keluhan kecil, menurutnya, kerap menjadi sinyal awal dari masalah besar yang tak terlihat.

Baca Juga :  Ponpes Terpadu La Tansa Mustika PALI Gelar Wisuda Tahfidz Ketiga 

“Jangan anggap sepele curhat atau permintaan sederhana anak. Dukungan emosional itu sama pentingnya dengan bantuan materi,” katanya.

Tragedi ini semakin menyayat hati setelah polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan milik korban, YBR (10). Surat itu ditulis dalam bahasa daerah Bajawa dan ditujukan kepada sang ibu. Isinya menyiratkan kekecewaan sekaligus perpisahan, meninggalkan luka mendalam bagi siapa pun yang membacanya.

Sementara itu, Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, mengungkapkan malam sebelum kejadian, YBR sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pulpen. Permintaan sederhana itu tak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi. (mel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *