Takefusa Kubo Yakin Jepang Lebih Percaya Diri, Bidik Sejarah Baru di Piala Dunia 2026

PALEMBANG, viralsumsel.com – Bintang muda Jepang, Takefusa Kubo, menegaskan bahwa Timnas Jepang kini datang ke Piala Dunia FIFA 2026 dengan tingkat kepercayaan diri yang jauh lebih tinggi dibandingkan empat tahun lalu di Qatar.

Pemain sayap yang kini menjadi salah satu pilar utama Samurai Biru itu menilai perkembangan Jepang dalam beberapa tahun terakhir sangat signifikan, baik dari sisi kualitas permainan maupun mentalitas tim. Pengalaman berharga di Piala Dunia 2022 menjadi modal penting yang membentuk karakter skuad Jepang saat ini.

Pada Piala Dunia Qatar 2022, Kubo masih berusia 21 tahun dan menjadi salah satu pemain termuda dalam skuad Jepang. Saat itu, Jepang sukses mencuri perhatian dunia setelah mengalahkan dua mantan juara dunia, Jerman dan Spanyol, di fase grup. Namun perjalanan mereka harus terhenti secara dramatis setelah kalah adu penalti dari Kroasia di babak 16 besar.

Empat tahun berselang, situasinya berubah. Kubo yang dulu dianggap sebagai masa depan sepak bola Jepang kini menjadi salah satu pemain yang memikul harapan besar publik Negeri Sakura.

Jepang Semakin Matang dan Percaya Diri

Menurut Kubo, tanda-tanda peningkatan performa Jepang mulai terlihat sejak babak kualifikasi Piala Dunia zona Asia. Ia merasakan adanya perubahan besar dalam cara tim bermain maupun dalam keyakinan para pemain terhadap kemampuan mereka sendiri.

“Kami menyadari kualitas yang kami miliki ketika berhasil menciptakan jarak poin yang cukup besar dalam kualifikasi. Bukan hanya hasil pertandingan yang membuat kami percaya diri, tetapi juga cara kami bermain sebagai sebuah tim yang semakin solid,” ungkap Kubo.

Performa impresif Jepang selama kualifikasi membuat mereka menjadi negara pertama yang memastikan tiket ke Piala Dunia 2026 melalui jalur kualifikasi.

Baca Juga :  MU Gagal Menang! Begini Drama Penalti yang Bikin Sociedad Bangkit!

Keberhasilan tersebut semakin memperkuat keyakinan bahwa Jepang kini berada di jalur yang tepat untuk mencatat sejarah baru di panggung sepak bola dunia.

Pelajaran Berharga dari Kekalahan atas Kroasia

Meski demikian, Kubo mengakui bahwa kegagalan menembus perempat final di Qatar masih meninggalkan kesan mendalam bagi dirinya dan rekan-rekan setim.

Menurut pemain Real Sociedad tersebut, kekalahan dari Kroasia bukan semata-mata ditentukan oleh adu penalti.

Ia menilai masih banyak aspek permainan yang bisa diperbaiki selama 120 menit pertandingan berlangsung.

“Laga itu mengajarkan kami betapa sulitnya mengubah sejarah. Banyak detail kecil yang tidak berjalan sempurna. Hasil akhirnya memang tercatat kalah lewat adu penalti, tetapi sebenarnya masih banyak hal yang bisa kami lakukan lebih baik selama pertandingan,” ujarnya.

Pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi Jepang dalam mempersiapkan diri menghadapi turnamen tahun 2026.

Detail Kecil Bisa Menentukan Nasib Tim

Kubo menegaskan bahwa pertandingan di Piala Dunia sering kali ditentukan oleh momen-momen kecil yang terjadi dalam laga.

Karena itu, Jepang berusaha meningkatkan kualitas di setiap aspek permainan, mulai dari taktik, fisik, hingga kesiapan mental.

“Di Piala Dunia, perbedaan kemenangan dan kekalahan sering kali sangat tipis. Karena itu kami harus memperhatikan setiap detail sekecil apa pun,” katanya.

Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak pemain Jepang yang berkarier di kompetisi elite Eropa. Kondisi tersebut turut meningkatkan kualitas dan pengalaman internasional para pemain Samurai Biru.

Menurut Kubo, Jepang kini tidak lagi merasa inferior ketika menghadapi tim-tim besar dunia.

Baca Juga :  Real Madrid Melaju ke Final Copa del Rey Usai Drama Delapan Gol Kontra Real Sociedad

“Kami selalu menghormati lawan, tetapi kami juga percaya bahwa kami memiliki kemampuan untuk mengalahkan siapa pun,” tegasnya.

Kreativitas Kubo Jadi Senjata Utama Jepang

Sebagai pemain yang dikenal memiliki kemampuan dribel dan kreativitas tinggi, Kubo diyakini akan menjadi salah satu senjata utama Jepang di Amerika Utara nanti.

Pemain yang akan berusia 25 tahun pada 4 Juni tersebut mengaku paling menikmati permainan ketika mampu melewati lawan dalam situasi satu lawan satu.

“Bagi saya, momen paling menyenangkan di lapangan adalah ketika bisa mengalahkan pemain lawan dan menciptakan ruang untuk tim,” katanya.

Meski demikian, Kubo menekankan bahwa sepak bola tetap merupakan permainan kolektif. Kebebasan pemain menyerang hanya bisa terwujud jika seluruh tim menjalankan tugasnya dengan disiplin.

“Seorang pemain depan memang harus kreatif, tetapi kreativitas itu harus dibangun di atas disiplin taktik dan kerja sama tim yang baik. Kami bisa bermain bebas karena ada organisasi permainan yang kuat di belakang kami,” jelasnya.

Jepang Bidik Perempat Final Pertama dalam Sejarah

Sejak pertama kali tampil di Piala Dunia, Jepang belum pernah mampu melangkah lebih jauh dari babak 16 besar. Pencapaian terbaik mereka tercatat pada edisi 2002, 2010, 2018, dan 2022.

Kini, dengan skuad yang lebih matang, pengalaman internasional yang lebih luas, serta kepercayaan diri yang meningkat, Jepang berambisi menembus perempat final untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Harapan besar itu pun kini berada di pundak Takefusa Kubo dan generasi emas Samurai Biru yang siap menantang batas baru sepak bola Asia di panggung dunia. (bbs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *