SURABAYA, viralsumsel.com – Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong transformasi digital sektor koperasi melalui percepatan implementasi teknologi pada jaringan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat daya saing koperasi desa sekaligus menjawab tantangan perkembangan ekonomi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
Program ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap pengembangan Program Koperasi Merah Putih yang digagas Presiden RI Prabowo Subianto sebagai instrumen penguatan ekonomi kerakyatan berbasis desa.
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur, Endy Alim Abdi Nusa, menjelaskan bahwa koperasi saat ini dituntut untuk bertransformasi agar tidak hanya berfungsi sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi mampu menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat yang modern dan produktif.
Pernyataan tersebut disampaikan Endy saat menjadi narasumber dalam forum ekonomi Airlangga Support for Economic Collaboration (ASEC) yang digelar Mahasiswa Program Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Angkatan 65 dan 66 di Plaza Universitas Airlangga Kampus C, Surabaya, Kamis (18/6/2026).
Forum yang diikuti lebih dari 150 peserta dari kalangan mahasiswa dan pelaku koperasi itu membahas berbagai tantangan dan peluang ekonomi di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Menurut Endy, kemajuan teknologi dan AI tidak selalu menjadi ancaman bagi dunia kerja. Sebaliknya, perkembangan tersebut justru membuka peluang lahirnya berbagai profesi baru yang membutuhkan kompetensi dan keterampilan berbeda.
Ia menegaskan bahwa pemerintah saat ini tengah melakukan revitalisasi menyeluruh terhadap peran koperasi sebagai motor penggerak ekonomi desa.
“Koperasi harus berkembang menjadi agregator berbagai komoditas pertanian dan produk UMKM. Dengan begitu, koperasi mampu meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat desa sekaligus memperkuat rantai pasok produk lokal,” ujarnya.
Dalam proses transformasi tersebut, Dinkop UKM Jatim mengacu pada sejumlah koperasi besar yang telah sukses mengelola aset dan bisnis dalam skala besar.
Beberapa koperasi yang dijadikan referensi antara lain Koperasi Sidogiri, Koperasi Pondok Pesantren Sunan Drajat, Koperasi Semen Indonesia, serta Koperasi Karyawan Petrokimia Gresik (K3PG).
Menurut Endy, keberhasilan koperasi-koperasi tersebut menunjukkan bahwa tata kelola profesional menjadi faktor utama dalam menciptakan koperasi yang sehat dan berkelanjutan.
Karena itu, pemerintah berencana menerapkan pola manajemen serupa pada jaringan Koperasi Desa Merah Putih dengan menempatkan tenaga profesional lulusan perguruan tinggi sebagai manajer koperasi.
Proses rekrutmen akan dilakukan secara selektif dan melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) guna memastikan kualitas sumber daya manusia yang mengelola koperasi di tingkat desa.
Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat modernisasi koperasi desa sehingga mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memperluas akses pasar, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan usaha yang lebih profesional dan berbasis digital.
Dengan transformasi ini, Koperasi Desa Merah Putih diharapkan menjadi pilar ekonomi baru yang mampu menggerakkan pembangunan desa secara berkelanjutan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional. (bbs)






